KELANA KOTA

Jelang Hari Bumi, Reboisasi Tidak Boleh Hanya Sekadar Seremonial

Laporan Agung Hari Baskoro | Sabtu, 20 April 2019 | 13:29 WIB
Diskusi bertajuk "Selamatkan Hutan dan Gunung, Selamatkan Ekosistem" di Lab Geofisika ITS, Surabaya pada Sabtu (20/4/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Departemen Geofisika ITS dan Komunitas Pecinta Lingkungan dari berbagai daerah menggelar diskusi bertajuk "Selamatkan Hutan dan Gunung, Selamatkan Ekosistem" di Lab Geofisika ITS, Surabaya pada Sabtu (20/4/2019).

Amien Widodo Pakar Geologi ITS mengatakan, acara ini digelar untuk memperingati Hari Bumi sekaligus bentuk keprihatinan bersama melihat bencana yang terus terjadi beberapa tahun belakangan.

"Selama beberapa tahun ini kan terjadi banyak bencana tadi. Kita seperti panen bencana, di seluruh Indonesia. Kalau di Jawa Timur kita tadi sudah sebutkan mulai tahun 2002, saat terjadi banjir, longsor, banjir bandang yang ada di Pacet, Mojokerto. Terus 2006, yang terjadi di Panti, Jember, juga sangat banyak," ujar Amien ketika ditemui di Lab Geofisika ITS, Surabaya pada Sabtu (20/4/2019).

Ia menyebut, persoalan ini muncul karena banyak pohon di hutan dan gunung yang telah diganti dengan tanaman lain dan dijadikan perkebunan. Hal ini berbahaya, karena tanah, pohon, dan iklim adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.


"Jadi tanah terbentuk di situ karena ada pohon tadi. Jadi, kalau itu diganti, akar yang selama ini sudah menancap ke dalam menjadi tidak bisa mengikat lagi. Itu yang terjadi beberapa tahun ini," ungkapnya.

Ia menegaskan reboisasi perlu dilakukan secara masif dan tidak hanya sekadar seremonial. Selama ini, menurut Amien, reboisasi seringkali hanya gencar diawal penanaman saja namun tidak dipantau pertumbuhannya.

"Misalnya itu terkait dengan kementerian, ya dia harus kerja sama dengan masyarakat lokal di situ untuk memelihara itu (pohon, red) sampai tumbuh besar. Selama ini tidak ada yang begitu. Padahal dia pada waktu hujan itu baik. Begitu hujan berikutnya kalau bisa tumbuh itu sudah baik. Tapi kalau itu tidak dilihat dan tidak ada siraman segala macem, kemarau itu kan kadang-kadang panjang itu bisa membuat dia mati," pungkasnya. (bas/tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.