KELANA KOTA

138 Orang Meninggal dalam Ledakan Bom di Sri Lanka

Laporan Agustina Suminar | Minggu, 21 April 2019 | 15:35 WIB
Teror bom di Gereja dan hotel di Sri Lanka. Foto: Reuters
suarasurabaya.net - Ledakan bom di tiga gereja dan tiga hotel mewah Sri Lanka saat Hari Paskah, Minggu (21/4/2019), menewaskan 138 orang dan mencederai lebih 400 orang. Hal ini disampaikan oleh para pejabat rumah sakit dan sumber-sumber kepolisian, setelah suasana tenang dari serangan-serangan besar sejak akhir perang saudara 10 tahun lalu.

Menurut seorang perwira polisi yang dikutip Reuters dilansir Antara, di gereja St. Sebastian di Katuwapitiya, sebelah utara Kolombo, lebih 50 orang tewas akibat ledakan ini. Berdasarkan gambar-gambar yang diunggah di akun facebook-nya, terlihat jasad-jasad tergeletak di lantai, darah berceceran di bangku-bangku dan atap yang rusak.

Media melaporkan 25 orang juga tewas dalam serangan atas satu gereja di Batticaloa, di Provinsi Timur. Tercatat, ada sembilan warga negara asing yang meninggal dalam serangan-serangan tersebut.

Tiga hotel yang diserang ialah Shangri-La Colombo, Kingsbury Hotel dan Cinnamon Grand Colombo. Belum jelas apakah ada korban di hotel-hotel tersebut.


Sejauh ini, belum ada pihak mengaku bertanggungjawab atas serangan-serangan tersebut di sebuah negara yang dilanda perang selama beberapa dekade dengan para pemberontak Tamil hingga tahun 2009. Selama perang itu, ledakan-ledakan bom terjadi di Kolombo, ibu kota Sri Lanka.

Ranil Wickremesinghe Perdana Menteri menyerukan sidang dewan keamanan nasional di kediamannya Minggu siang.

"Saya mengutuk keras serangan-serangan pengecut itu atas rakyat kami hari ini. Saya imbau rakyat Sri Lanka tetap bersatu dan kuat selama masa tragis ini," kata dia dalam cuitannya di Twitter. "Mohon hindari untuk menyiarkan laporan-laporan dan spekulasi yang belum terverifikasi. Pemerintah sedang mengambil langkah-langkah untuk mengatasi situasi."

Tahun lalu, telah terjadi 86 insiden yang sudah terverifikasi, ancaman-ancaman dan kekerasan terhadap umat Kristen, menurut the National Christian Evangelical Alliance of Sri Lanka (NCEASL), yang mewakili lebih 200 gereja dan organisasi Kristen.

Tahun ini NCEASL mencatat 26 insiden serupa, termasuk satu insiden yang dilakukan kelompok lain untuk mengganggu misa Minggu, dengan satu lagi dilaporkan pada 25 Maret.

Dari total 22 juta penduduk Sri Lanka, 70 persen di antaranya pemeluk agama Budha; 12,6 persen Hindu; 9,7 persen Muslim; dan 7,6 persen Kristen; menurut sensus penduduk di negara itu tahun 2012.(ant/tin)
Editor: Zumrotul Abidin



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA