KELANA KOTA

Gagal Jantung dan Stroke Jadi Penyebab Terbanyak Kematian Petugas KPPS

Laporan Agustina Suminar | Senin, 13 Mei 2019 | 21:02 WIB
Diskusi publik yang membahas kematian mendadak petugas pemilu di kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia di Jakarta, Senin (13/5/2019). Foto: Faiz suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pejabat Kementerian Kesehatan menyebut gagal jantung dan stroke sebagai penyebab terbanyak kematian petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).

"Penyebab terbanyak karena gagal jantung, kedua stroke," kata Tri Hesty Widyastoeti Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan di kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia di Jakarta, Senin (13/5/2019).

Menurut hasil investigasi yang dilakukan Kementerian Kesehatan di 17 provinsi, jumlah petugas KPPS yang meninggal dunia sebanyak 445 orang dan jumlah petugas KPPS yang sakit sebanyak 10.007 orang.

Kementerian Kesehatan menyatakan kasus kematian paling banyak terjadi di wilayah Provinsi Jawa Barat, dan angka kesakitan terbanyak di DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Barat.


Dia menyebut petugas KPPS yang meninggal dunia paling banyak berusia 50 sampai 59 tahun. Disusul usia 40 sampai 49 tahun. Menurut Tri Hesty, 29 persen korban meninggal dunia berusia 50 tahun.

Ia menjelaskan pula bahwa kematian petugas KPPS paling banyak terjadi di luar rumah sakit dan korban umumnya meninggal dunia tidak pada tanggal pencoblosan 17 April. Melainkan beberapa hari setelahnya yaitu pada 21-25 April dan 26-30 April.

"Sebab kematian ada beberapa yang belum diketahui, tetap kami terus telusuri," kata dia dilansir Antara.

Dia menerangkan Kementerian Kesehatan terus menerus berkoordinasi dan telah membentuk satuan tugas untuk menangani kasus tersebut. Di samping mendata angka kesakitan dan korban meninggal, Kementerian Kesehatan juga memeriksa kesehatan para petugas KPPS.(ant/tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.