KELANA KOTA

Gejala, Cara Penularan dan Cara Pencegahan Cacar Monyet

Laporan Dwi Yuli Handayani | Selasa, 14 Mei 2019 | 11:36 WIB
Iustrasi. Foto: freepik
suarasurabaya.net - Monkeypox atau cacar monyet adalah penyakit akibat virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis). Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau lesi pada kulit atau mukosa dari binatang yang tertular virus.

Penularan pada manusia terjadi karena kontak dengan monyet, tikus Gambia dan tupai, atau mengonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi. Namun inang utama dari virus ini adalah rodent (tikus).

Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang. Namun proses penularannya bisa terjadi melalui cairan tubuh, kontak dengan darah hingga adanya luka terbuka pada kulit.

Mengonsumsi daging yang sudah terinfeksi virus juga dapat menjadi faktor penularan cacar monyet. Untuk itu, perlu sekali memastikan segala makanan yang akan dikonsumsi terutama ketika pergi ke luar negeri.


Dilansir dari laman World Health Organization, gejala akibat cacar monyet terdiri dari dua fase yaitu:

1. Fase invasi atau pra-erupsi
Fase invasi yang biasanya akan terjadi selama 5 hari. Kemunculan gejala pertama yang akan menurunkan kesehatan tubuh seseorang adalah demam, sehingga suhu tubuh dapat mencapai 38,5-40,5 derajat Celcius. Pada fase ini demam akan disertai dengan beberapa gejala lainnya seperti keringat dingin, kondisi tubuh yang menggigil, badan mulai lemas, nyeri punggung, nyeri otot, sakit kepala, terjadi pembesaran kelenjar getah bening terutama pada bagian leher dan rahang.

2. Fase erupsi kulit
Fase erupsi kulit terjadi pada 1-3 hari setelah demam mulai berlangsung. Gejala cacar monyet pada fase ini dapat memunculkan ruam pada kulit, sehingga akan terlihat kemerahan dari bagian wajah hingga seluruh tubuh. Ruam kulit nantinya perlahan-lahan akan berubah menjadi bintik berisi air seperti nanah dan jika sembuh akan berbekas seperti luka koreng.

Cacar monyet bisa dihindari dengan beberapa pencegahan untuk menghindari berbagai faktor risiko yang ada seperti selalu tetap menerapkan gaya hidup bersih dan sehat.

Selain itu usahakan untuk rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir hingga benar-benar bersih. Apalagi saat melakukan kontak langsung dengan hewan. Dan menghindari kontak langsung dengan hewan primata atau pengerat di wilayah tertentu atau bahkan memeliharanya. (berbagai/dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.