KELANA KOTA

Polisi Korban Bom Surabaya: Saya Sudah Memaafkan Pelaku dan Ikhlas Tak Bisa Melihat Lagi

Laporan Anggi Widya Permani | Selasa, 14 Mei 2019 | 21:23 WIB
Ipda Ahmad Nurhadi anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Gubeng Polrestabes Surabaya, korban ledakan Bom Surabaya, bersama keluarga. Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Insiden bom Surabaya yang terjadi pada 13 Mei 2018 lalu, menjadi peristiwa kelam bagi Ipda Ahmad Nurhadi anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Gubeng Polrestabes Surabaya. Sebagai Tim Patroli Sabhara, pria berusia 45 tahun ini setiap hari Minggu selalu melakukan pengamanan di gereja.

Salah satunya Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), yang saat itu menjadi sasaran ledakan bom. Tanpa firasat apapun, tiba-tiba saja ledakan itu terjadi kala dirinya sedang bertugas di dekat pos gereja. Ledakan yang keras membuat Ahmad jatuh tak sadarkan diri.

Namun saat dirinya sadar, dia mengaku penglihatannya menjadi gelap dan kedua kakinya sulit digerakkan. Tak bisa melihat apapun, Ahmad hanya mendengar suara teriakan orang minta tolong dan menangis ketakutan.

"Saya waktu sedang ada di pos bagian selatan pintu masuk. Nah, di depan pos itu ada meja dan kursi. Saat pelaku masuk, saya sedang duduk nulis buku dan itu langsung saja meledak. Kita semua gak ada yang nyangka," kata Ahmad, saat menghadiri peringatan peristiwa 13 Mei di Gereja SMTB.


Yang teringat oleh Ahmad, saat itu dirinya dibantu oleh petugas untuk dibawa ke rumah sakit. Selama tiga bulan, Ahmad menjalani perawatan secara intensif di RSUD Dr Soetomo dan menjalani operasi sebanyak enam kali. Akibat ledakan itu, Ahmad mengalami patah tulang di kedua kakinya dan buta permanen.

Pihak Polri telah mengupayakan pengobatan untuk Ahmad hingga ke Singapura. Namun kedua matanya kini sudah tidak bisa difungsikan karena serpihan bom yang mengenai sarafnya. Menanggapi ini, Ahmad mengaku ikhlas dan masih bersyukur bahwa dirinya masih diizinkan kembali berkumpul dengan keluarganya.

Menjalani hari-hari dengan kursi roda, tak membuatnya patah semangat. Yang terpatri dalam dirinya, sebagai anggota Polri sudah kewajibannya untuk melindungi masyarakat. Tak ada penyesalan dalam dirinya, bahkan dia sudah memaafkan perbuatan para pelaku bom atau teroris.

"Itu memang peristiwa kelam. Tapi saya sebagai anggota Polri tetap semangat. Saya sudah memaafkan, biar yang Maha Kuasa yang mengadili mereka (pelaku bom, red)," kata dia.

Nunung Ifana istri Ahmad terlihat tabah dengan kondisi suaminya. Meski tak bisa lagi melihat, tapi Nunung mengaku masih punya harapan besar untuk kesembuhan kedua kaki Ahmad. Setahun menjalani fisioterapi, perlahan membuahkan hasil. Dokter pun yakin, bahwa Ahmad bisa kembali berjalan.

"Iya dokternya itu pernah bilang, target Pak Ahmad ini bisa jalan. Alhamdulillah masih ada harapan. Kami berterima kasih kepada pihak kepolisian dan pemerintah yang sudah membantu pengobatan untuk suami saya," kata dia.

Meski kini Ahmad tak lagi bertugas karena dalam masa pengobatan, Nunung mengaku pihak instansi kepolisian masih memberikan hak suaminya. Seperti gaji, tunjangan, dan lain-lain. Nunung bersyukur atas itu, dan berharap suaminya agar lekas membaik. (ang/iss)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.