KELANA KOTA

Tidak Menikmati Uang Korupsi, Idrus Marham Kecewa Harus Mendekam di Penjara

Laporan Farid Kusuma | Rabu, 15 Mei 2019 | 14:00 WIB
Idrus Marham terpidana kasus korupsi proyek PLTU Riau-1 (rompi oranye) memberikan keterangan sebelum menjalani pemeriksaan sebagai saksi Sofyan Basir, Rabu (15/5/2019), di Kantor KPK, Jakarta Selatan. Foto: Farid suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Idrus Marham mantan Menteri Sosial mengungkapkan kekecewaan terhadap Pengadilan Tipikor Jakarta yang memvonisnya bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama.

Dalam amar putusan yang dibacakan majelis hakim, Selasa (23/4/2019), Idrus terbukti menerima suap, dan harus mendekam di penjara.

Padahal, menurut pengakuan bekas Sekjen Partai Golkar itu, dia sama sekali tidak menikmati uang suap yang diberikan Johannes Budisurtisno Kotjo pemilik saham Blackgold Natural Resources, melalui Eni Maulani Saragih rekan separtainya.

Pernyataan itu disampaikan Idrus di Kantor KPK, Rabu (15/5/2019) sebelum menjalani pemeriksaan sebagai saksi kasus korupsi proyek PLTU Riau-1, untuk Sofyan Basir Direktur Utama PT PLN (non aktif) yang sekarang berstatus tersangka.


"Saya sudah diputuskan (oleh pengadilan) tidak menikmati (uang suap) tapi tetap dihukum. Orang nggak menikmati (uang korupsi) kok dihukum, gimana sih?" ucapnya di Kantor KPK, Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2019).

Lebih lanjut, Idrus mengatakan tidak mengenal Samin Tan Pemilik PT Borneo Lumbung Energy and Metal yang memberikan Eni Saragih Rp5 miliar untuk mengurus terminasi Perjanjian Karya Pengusahaan Batubara, di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sedangkan terkait pemeriksaan untuk Sofyan Basir Dirut PT PLN (non aktif), Idrus Marham mengatakan siap memberi keterangan yang dia ketahui kepada Penyidik KPK.

"Nanti sesudah ditanya Penyidik KPK, akan saya jelaskan apa saja keterangan yang saya sampaikan dalam kesaksian untuk Pak Sofyan Basir, kepada rekan-rekan media," tegasnya.

Sehubungan dengan kasus ini, Pengadilan Tipikor Jakarta sudah menjatuhkan vonis dua tahun delapan bulan penjara serta denda Rp150 juta subsider tiga bulan kurungan kepada Johannes Budisutrisno Kotjo pengusaha yang memberi suap.

Lalu, Eni Maulani Saragih bekas Wakil Ketua Komisi VII DPR, divonis 6 tahun penjara plus denda Rp200 juta subsider dua bulan kurungan, ditambah kewajiban membayar uang pengganti Rp5,87 miliar dan 40 ribu Dollar Singapura.

Selain penjara dan denda uang, Eni juga dijatuhi hukuman tambahan berupa pencabutan hak politik selama tiga tahun sesudah selesai menjalani masa hukumannya.

Kemudian, Pengadilan Tipikor Jakarta memvonis Idrus Marham tiga tahun penjara serta denda Rp150 juta subsider dua bulan kurungan.

Dari pengembangan kasus tersebut, Selasa (23/4/2019), KPK menetapkan Sofyan Basir Dirut PLN sebagai tersangka penerima suap untuk memuluskan kesepakatan kontrak pengadaan listrik proyek PLTU Riau-1, dengan PT Samantaka Batubara. (rid/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.