KELANA KOTA

Tato Tulisan Sugeng, Kunci Penangkapan Pelaku Mutilasi di Malang

Laporan Dwi Yuli Handayani | Kamis, 16 Mei 2019 | 10:44 WIB
Polisi menunjukkan barang bukti berupa tulisan-tulisan misterius dari temuan korban mutilasi di Pasar Besar Malang. Foto: liputan6.com
suarasurabaya.net - Polisi menangkap Sugeng, terduga pelaku mutilasi di Malang, Jawa Timur. Rajah atau tato di telapak kaki korban berjenis kelamin perempuan itu jadi salah satu petunjuk penting mengungkap peristiwa yang bikin geger warga dan pedagang di Pasar Besar.

Masing-masing telapak kaki korban mutilasi di Malang memiliki rajah bertuliskan "Sugeng" dan "Wahyu yang Kami Terima dari Gereja Comboran". Terungkap saat jasad diautopsi di kamar mayat RS Saiful Anwar Malang, Selasa malam (14/5/2019).

Sugeng (49) warga Polehan, Kota Malang jadi terduga pelaku mutilasi. Dia pula yang merajah kedua telapak kaki korban. Sugeng ditangkap Rabu siang di depan Persemayaman Jenazah Panca Budi di Jalan Martadinata, tak jauh dari kawasan Pasar Besar.

"Semua petunjuk mengarah ke Sugeng ini. Sekarang sedang pemeriksaan lanjutan ke terduga pelaku," kata AKBP Asfuri di Malang Kapolres Malang Kota, Rabu (15/5/2019), seperti dilansir liputan6.com.


Kepada polisi, Sugeng mengaku baru mengenal korbannya 9 hari lalu. Saat berjumpa di sekitar Kelenteng Eng An Kiong di Jalan Martadinta siang hari. Perempuan itu tidak menyebut nama, hanya mengaku berasal dari Maluku.

"Pengakuan pelaku, saat pertemuan itu perempuan tersebut mengaku sedang sakit," ujar Asfuri.

Sugeng membawa perempuan itu ke lantai 2 bekas gedung Matahari di Pasar Besar siang itu juga. Masih pengakuan terduga pelaku ke polisi, sosok yang baru dikenalnya itu kemudian meninggal dunia sekitar pukul 17.00. Jasadnya ditinggal di bawah tangga.

Tiga hari kemudian, pelaku memutilasi jasad korban menggunakan sebuah gunting berukuran besar. Sekaligus merajah tulisan di kedua telapak kaki korban dengan alat sol sepatu dan tinta pulpen. Pengakuan pelaku, semua sesuai pesan perempuan itu sebelum meninggal.

"Serta mendengar ada bisikan. Itu keterangan pelaku ke kami, tapi masih harus didalami lagi," ujar Asfuri.

Polisi membutuhkan serangkaian pemeriksaan lanjutan untuk mengungkap detail kasus ini. Melibatkan psikiater, memeriksa kondisi kejiwaan terduga pelaku.

Serta menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik dan otopsi jasad korban mutilasi di Malang ini. "Kami juga harus memastikan apa penyebab korban meninggal dunia sebelum dimutilasi oleh terduka pelaku," tutur Asfuri.

Kronologi Penangkapan

Rajah di telapak kaki jadi faktor penting pengungkapan peristiwa ini. Malam hari usai temuan itu, polisi mengidentifikasi nama-nama Sugeng yang ada di kawasan Pasar Besar. Termasuk mendatangi sebuah gereja di kawasan Pasar Comboran guna mengecek nama itu.

"Pengurus gereja menyebut ada seorang jemaat bernama Sugeng tinggal di Kelurahan Polehan," kata AKBP Asfuri.

Polisi kemudian menuju alamat yang dimaksud. Warga membenarkan ada pria bernama Sugeng pernah indekos di salah satu rumah. Di rumah itu pula ditemukan tulisan tangan yang isinya serupa dengan empat tulisan misterius di lembaran kertas di tempat kejadian.

"Warga memberikan ciri-ciri pria bernama Sugeng itu. Siang kami melanjutkan pelacakan itu," ujar Asfuri.

Rabu pagi, unit anjing pelacak tiba di tempat kejadian. Mengendus temuan baju yang diduga milik pelaku. Anjing bergerak hingga ke halaman Persemayaman Jenazah Panca Budi di Jalan Martadinata, tidak jauh dari kawasan Pasar Besar. Situasi saat itu sepi.

"Anggota kami kembali ke tempat itu, melihat ada orang tiduran dengan ciri yang sudah kami kantongi. Memanggil nama Sugeng dan ternyata pria itu menoleh," ucap Asfuri.

Polisi segera menangkap Sugeng sekitar pukul 13.30. Membawanya kembali ke lokasi temuan jasad korban mutilasi di Malang. Setelah serangkaian pemeriksaan, pelaku mengakui perbuatan mutilasi itu.

Identitas Korban

Salah satu pekerjaan tersisa dari kepolisian saat ini, mengungkap identitas perempuan korban mutilasi di Pasar Besar Malang tersebut. Sebab tidak banyak tanda yang bisa membantu mengenali siapa sesungguhnya perempuan tersebut.

"Kami belum bisa memastikan siapa korban ini. Pelaku hanya menyebut perempuan itu asal Maluku, tidak ada nama," ujar Asfuri.

Apalagi tidak ditemukan kartu identitas di sekitar lokasi temuan jasad korban. Kondisi tubuh korban yang sudah membusuk juga mempersulit tim identifikasi. Dampaknya, kesulitan pula untuk mengambil sidik jari korban.

"Tunggu saja hasil autopsi dan tim forensik untuk membantu mengungkap identitas korban," kata Asfuri.

Sebelumnya, warga dan pedagang di kawasan Pasar Besar Malang digegerkan dengan temuan potongan tubuh perempuan pada Selasa, 14 Mei silam. Tubuh itu ditemukan dalam enam bagian terpisah di dalam toilet serta di bawah tangga. (lip6/dwi/ipg)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA