KELANA KOTA

Pemkot Tambah 70 Taman, Risma Ingin Suhu Surabaya 22 Derajat

Laporan Zumrotul Abidin | Jumat, 17 Mei 2019 | 09:15 WIB
Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya usai meresmikan Taman Harmoni di Jl Keputih Tegal Timur II Surabaya, Kamis (16/5/2019) sore. Foto: Abidin suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meresmikan 70 taman baru yang tersebar di Kota Pahlawan. Dengan begitu total taman di Surabaya menjadi 453 taman.

Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya mengatakan, alasannya terus menambah taman karena ingin 30 persen wilayah di Surabaya adalah ruang terbuka hijau. Selain itu, Risma ingin suhu udara di Surabaya turun sampai 22 derajat celcius.

"Tambah terus, nanti sampai suhu udara di Kota Surabaya mencapai 20-22 derajat celcius. Dulu Surabaya rata-rata 34 sampai 36 derajat celcius. Sekarang sudah 32 derajat ke bawah dan itu ada datanya, bahkan kalau pagi Kota Surabaya berkabut," kata Risma usai meresmikan Taman Harmoni di Jl Keputih Tegal Timur II Surabaya, Kamis (16/5/2019) sore.

Risma mengatakan, dari 70 taman itu dibangun dengan beragam pendanaan. Ada yang menggunakan APBD, dan CSR. Di taman Harmoni yang luasnya 2,8 hektar misalnya, dibangun dengan dana APBD, CSR dan bantuan dari United Cities Local Government (UCLG).


"Taman ini akan lebih bagus dari taman-taman yang ada di luar negeri sekali pun. Karena taman ini penuh bunga. Kalau di sana (negara lain) cuma ada pohon sama rumput, kalau di sini penuh bunga," kata Wali Kota yang juga Presiden UCLG Aspac ini.

Risma mengatakan pembangunan Taman Harmoni juga bertujuan untuk menyuburkan kembali tanah yang sebelumnya merupakan eks Tempat Pembuangan Akhir (TPA), setelah 11 tahun ditutup.

Risma menceritakan, pembangunan taman di atas lahan timbunan sampah ini dilakukan setelah dipastikan gas metan yang ada di lokasi tersebut tidak lagi keluar.

"Jadi saya minta bantuan dari ITS untuk meyakinkan apakah sudah tidak ada gas metannya, karena gas metan itu yang dapat merusak lapisan ozon," ujarnya.

Setelah itu, kata Risma, barulah dilakukan pengurukan, menggunakan tanah galian dari sungai setinggi satu meter. Dengan begitu, akar tanaman akan tumbuh subur dan lebih kuat. Terlebih, jika akar tanaman sudah masuk ke dalam bekas sampah yang diuruk.

"Setelah sampe satu meter itu akarnya bisa tumbuh, itu artinya tumbuhan itu sudah bisa hidup. Nah, nanti kalau tumbuhannya sudah bisa masuk ke dalam sampah, dia sudah kuat posisinya. Jadi kayak gitu teori singkatnya memang agak berat," katanya. (bid/dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 3
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.