KELANA KOTA

Ludruk Irama Budaya Kaget, Harus Pindah Dari THR

Laporan Zumrotul Abidin | Senin, 27 Mei 2019 | 12:56 WIB
Pemkot Surabaya bersama Kejaksaan Negeri Surabaya saat melakukan sosialisasi dan mediasi pada penghuni di kawasan THR Jalan Kusuma Bangsa Surabaya. Foto: Abidin suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pemkot Surabaya bersama Kejaksaan Negeri Surabaya melakukan sosialisasi dan mediasi pada penghuni di kawasan THR Jalan Kusuma Bangsa Surabaya, Senin (27/5/2019). Di tengah dialog, dibagikan surat somasi yang intinya dalam 14 hari ke depan penghuni harus mengosongkan tempat yang menjadi aset Pemkot Surabaya ini.

Meimura Sekretaris Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara mengatakan, meskipun di sekitar kawasan THR banyak warga namun pihaknya mengaku tidak mengetahui jika di kawasan THR ini banyak dijadikan pemukiman.

"Kami ludruk Irama Budaya ini diundang tahun 2010 dan kami bawa sound, lampu, kelir dan lainnya. Saat itu memang di sini sepi dan tidak ada penghuni," kata Meimura saat ditemui suarasurabaya.net.

Dengan kebijakan ini, Meimura mengaku bingung nantinya akan ke mana dan aset-aset ludruknya ini akan ditaruh dimana. Karena pada dasarnya ludruknya ini adalah ludruk tobong yang bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.


"Kami 5 orang memang stay di sini tapi bukan berarti kami tinggal di sini karena kami punya rumah masing-masing. Tapi kan ada yang harus selalu ngawasi aset dan mempersiapkan pertunjukan setiap malam minggu dan bagian lainnya. Sehari-hari memang kelihatan ada terus di gedung tapi mereka tetap pulang ke rumah masing-masing," ujarnya.

Kebijakan ini, menurut Meimura terjadi tiba-tiba dan dia tidak mengetahui sebelumnya. "Saya secara pribadi pernah bertemu Bu Wali. Memang ada konsep menarik yang akan dikembangkan di sini. Tapi untuk pindah tiba-tiba ini kami tidak pernah diajak bicara. Kedua, peristiwa tiba-tiba alat-alat kesenian ini harus diangkut ini membuat kami terkejut. Kami ini adalah binaan Pemkot, nggak ada rembukan ini yang bikin kami saling gak enak. Problem kami sebenarnya, kami nggak apa-apa. Tapi akan sangat bijak kalau Ibuk kembalikan kami ke tobong," katanya.

Oleh karena itu untuk mendapatkan kejelasan, Memimura berharap bisa bertemu dengan Wali Kota Surabaya.

"Kami sebelumnya sudah berikrar menjaga eksistensi kesenian ludruk di Surabaya, melakukan inovasi dan regenerasi. Karena itu kami ingin bertemu khususnya dengan kami dan bertanya piye karepe seh (bagaimana keinginannya sih,red)," pungkasnya. (dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.