KELANA KOTA

Jalur Km 55 Piket Nol Malang-Lumajang Dibuka Pascalongsor

Laporan Agustina Suminar | Sabtu, 15 Juni 2019 | 08:17 WIB
Jalur di KM 55 Malang arah Lumajang, tepatnya di tebing Piket Nol, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, ditutup total akibat hujan lebat yang melanda daerah terebut sejak Kamis (13/6/2019). Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Pascalongsor yang terjadi di KM 55 Malang arah Lumajang, tepatnya di tebing Piket Nol, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang pada Jumat (14/6/2019), pada Sabtu (15/6/2019 hari ini jalur telah dibuka baik untuk pengguna jalan roda dua maupun roda empat. Bebatuan besar yang sempat menutup total badan jalan juga telah dipinggirkan. Hal itu disampaikan Bagio Setyono Kabid Kedaruratan BPBD Kabupaten Malang.

"Sudah dibuka, cuma masih licin. Teman-teman dari Lumajang mengawal alat berat untuk meminggirkan batu yang mengganggu. Kemarin kan karena batu besar itu jadi ditutup total, pagi ini sudah pembersihan, sudah clear," kata Bagio kepada Radio Suara Surabaya, Sabtu (15/6/2019).

Namun kepolisian wilayah setempat mengimbau masyarakat yang melewati daerah tersebut untuk selalu berhati-hati. Ini dikarenakan meski telah tidak ada material longsor, namun masih terdapat sisa-sisa lumpur di jalan nasional tersebut.

Apalagi, hujan sampai saat ini masih mengguyur wilayah tersebut. Seperti informasi yang disampaikan BMKG, wilayah Lumajang masih akan diguyur hujan 2 hingga 3 hari kedepan. Sehingga kondisi cuaca dengan hujan yang terus turun ikut mempengaruhi proses pembersihan yang sedang dilakukan petugas.


Wilayah Km 55 Piket Nol ini, seperti yang disampaikan Bagio, memang tergolong daerah rawan longsor. Tebing-tebing yang curam dan kurangnya pepohonan di kanan kiri jalan menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya longsor.

"Sepanjang Ampel Gading, Dampit sampai Pronojiwo, itu daerah rawan (longsor, red) karena posisinya di lereng selatan Gunung Semeru, itu kan badan gunungnya sampai pantai, dulu itu dipotong untuk jalan. Dulu banyak tanaman keras di kiri kanan jalan, sekarang banyak tanaman semusim, malah ada yang tidak ada (tanaman, red) tapi kemiringan lebih dari 45 derajat," imbuhnya.

Menurutnya, hal ini ditambah kontur tanah yang bercampur pasir. Sehingga penghijauan yang pernah dilakukan sempat beberapa kali akhirnya gagal karena tanah kembali longsor.

Namun pihaknya telah melakukan antisipasi dengan menyiapkan alat-alat berat jika suatu saat longsor kembali terjadi. Ia juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan peringatan dini dari BMKG, sehingga nantinya dapat memilih jalur alternatif lain jika hujan kembali turun.(tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.