KELANA KOTA

Menguji Kepatuhan Pengendara di Bawah Layang Waru dengan Patung Polisi

Laporan Ika Suryani Syarief | Sabtu, 15 Juni 2019 | 16:49 WIB
Sesosok patung berpakaian lengkap seperti polisi lalu lintas yang sedang bertugas diberdirikan tepat di persimpangan jalan di bawah layang Waru, Sidoarjo. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Polresta Sidoarjo melakukan eksperimen sosial terkait lalu lintas di bawah layang Waru, Sidoarjo. Sejak beberapa hari lalu, sesosok patung berpakaian lengkap seperti polisi lalu lintas yang sedang bertugas diberdirikan tepat di persimpangan jalan tersebut.

Hari ini, Sabtu (15/6/2019) sekitar pukul 14.00 WIB, patung polisi itu "hidup" karena digantikan oleh polisi sungguhan. Sejumlah pengendara motor yang setahu mereka polisi itu hanya patung, langsung ditangkap basah karena melanggar rambu larangan belok kanan.

Kompol Fahrian Saleh Siregar Kasat Lantas Polresta Sidoarjo mengatakan, eksperimen ini adalah sindiran bagi masyarakat, khususnya pengendara yang sering melanggar rambu lalu lintas.

"Eksperimen ini adalah sindiran. Anda patuh bukan karena kesadaran diri sendiri, tapi hanya karena melihat ada petugas. Padahal kalau tertib, kemacetan yang sering terjadi di sana bisa hilang," ujarnya kepada suarasurabaya.net, Sabtu sore.


Lalu dia mengingatkan, rambu itu dibuat agar lalu lintas bisa tertib, lancar, dan selamat. Melanggar rambu bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.


Polisi sungguhan yang menyaru sebagai patung, menangkap basah pengendara yang melanggar rambu di persimpangan jalan di bawah layang Waru, Sidoarjo. Foto: Istimewa.

Kompol Fahrian menjelaskan, sebelum eksperimen kreatif ini, sebenarnya polisi sudah melakukan berbagai upaya agar masyarakat taat rambu. Mulai dari menertibkan kendaraan yang melawan arus, sampai memanjangkan barisan beton pembatas jalan.

"Kami evaluasi sudah tertib atau belum. Ternyata hanya bisa tertib satu dua hari," katanya.

Begitu pula dengan penggunaan patung polisi ini. Setelah 2 sampai 3 hari, masyarakat kembali melanggar rambu karena telah menyadari kalau polisi itu sebenarnya patung.

"Jangan cuma protes dengan mengatakan polisi suka menilang. Mereka sendiri yang minta ditilang, tidak mau tertib. Biasanya pelanggar rambu beralasan terburu-buru. Tidak pakai helm beralasan dekat. Kalau dekat kenapa tidak jalan kaki? Kalau semua minta dituruti kapan kita bisa tertib," kata dia.

Selain pelanggaran rambu lalu lintas, pasar tumpah dan angkutan kota (angkot) yang ngetem (berhenti, red) di sekitaran bawah layang (flyover) Waru, menurut Kasatlantas, juga ikut menambah kemacetan. Saat ini, polisi langsung menilang angkot yang ngetem. Tidak ada lagi imbauan karena tidak digubris.(iss/din)
Editor: Zumrotul Abidin



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.