KELANA KOTA

Aksi Damai Wali Murid di Dinas Pendidikan Jatim Diwarnai Aksi Teaterikal

Laporan Denza Perdana | Kamis, 20 Juni 2019 | 16:45 WIB
Nanang Sugiarto salah satu wali murid SMP yang tinggal di Pepelegi, Waru, Sidoarjo, bertelanjang dada di halaman Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Jalan Genteng Kali, Kamis (20/6/2019). Nanang memulai orasi yang mirip pertunjukan monolog. Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Nanang Sugiarto salah satu wali murid SMP yang tinggal di Pepelegi, Waru, Sidoarjo, tiba-tiba melepas bajunya hingga bertelanjang dada di halaman Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Jalan Genteng Kali, Kamis (20/6/2019).

Dengan spontan dia memulai orasi yang mirip pertunjukan monolog, yang mana sejumlah wali murid lain dalam aksi damai menolak zonasi itu, sebagian duduk sebagian berdiri di sekeliling Nanang.

Nanang menyampaikan keluh kesahnya tentang sistem zonasi PPDB. Karena sistem itu, anaknya, salah satu siswi lulusan SMP Negeri 1 Sedati, Sidoarjo, tersisih dari dua sekolah pilihannya.

Padahal, nilai ujian putrinya cukup tinggi, total Nilai Ujian Nasional putrinya 337,50 dengan rata-rata setiap mata pelajaran di atas 8.


Mendaftar di SMA Negeri 1 Gedangan sebagai pilihan pertama, dengan jarak 3,7 kilometer dari rumah, putri Nanang tersisih karena ternyata jarak rumahnya masih terlalu jauh.

Apalagi di sekolah pilihan kedua, SMA Negeri 1 Waru yang berjarak 4,5 kilometer dari rumahnya. Putrinya pun tidak termasuk dalam nama yang terdaftar di website PPDB Jatim 2019.

"Sejak ibunya meninggal, dia belajar keras, ingin mendapatkan nilai bagus karena tidak mau saya bersedih. Saya minta istirahat, tidak mau, tapi apa yang dia dapat dari sistem zonasi ini? Apa?," ujarnya.


Nanang bercerita hingga mengeluarkan air mata. Foto: Denza suarasurabaya.net

Air mata turun dari sudut mata Nanang ketika mengatakan kalimat terakhir itu. Suaranya bergetar. Pria yang tubuhnya tampak kurus saat bertelanjang dada itu mengaku tidak enak makan, dua hari ini, sehingga hanya meminum air putih.

"Setiap mau makan, saya mual. Kemarin anak saya sempat senang waktu dihentikan sementara. Saya tidak tidur, jam dua waktu dibuka lagi, grafiknya naik. Anak saya di posisi 58 di SMAN 1 Gedangan, tapi pagi tadi turun jadi 70, 90, lalu sekarang sudah hilang namanya. Hilang," katanya. "Sekarang anak saya stres. Lebih banyak diam," ujarnya.

Padahal, kata dia, sehari-hari putri bungsunya itu selalu ceria, suka menggoda kakaknya yang juga perempuan. Tapi sebagaimana dia katakan, putrinya itu kini lebih banyak diam.

Nanang berharap, proses pendaftaran PPDB ini dihentikan, dievaluasi kembali tanpa zonasi, atau setidaknya kuotanya ditambah. Yang penting anaknya bisa masuk sekolah negeri.

"Orang mungkin ada yang mencari sekolah favorit. Saya tidak. Saya di Pepelegi Sidoarjo, mana ada sekolah favorit di dekat rumah saya? Yang penting anak saya masuk sekolah negeri, SPP-nya gratis, karena gaji saya juga pas-pasan," ujarnya.

Sementara itu, sampai Kamis sore pukul 15.30 WIB, sejumlah perwakilan wali murid masih melakukan audiensi dengan Hudiyono Plt Kepala Dinas Pendidikan Jatim, di ruang Melati Kantor Dindik Jatim.

Sementara wali murid lainnya yang ikut dalam aksi damai ini tetap bersabar menunggu hasil audiensi. Mereka duduk berkerumun di halaman kantor Dindik Jatim.(den/tin/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.