KELANA KOTA

Bulan Depan, Calon Pengantin di Jatim Diwajibkan Jalani Tes Urine

Laporan Anggi Widya Permani | Jumat, 12 Juli 2019 | 12:06 WIB
Moch Amin Mahfud Plt Kepala Kantor Kemenag Jatim usai menandatangani MoU dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim, Jumat (12/7/2019). Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Jatim akan menambahkan satu persyaratan baru bagi masyarakat Jatim yang akan melangsungkan pernikahan. Yaitu mewajibkan bagi seluruh calon pengantin (catin) menjalani tes urine untuk memastikan bahwa dirinya terbebas dari narkoba.

Ini disampaikan Moch Amin Mahfud Plt Kepala Kantor Kemenag Jatim, usai menandatangani MoU dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim, Jumat (12/7/2019). Tujuannya, tidak lain untuk memerangi penyalahgunaan narkoba dan memberantas peredaran gelap narkotika.

"Alhamdulillah kami dengan BNN sudah sepakat. Bahwa nanti semua calon pengantin (catin) itu harus dipastikan tidak bermasalah dengan narkoba. Karena kita ini kan mau mempersiapkan generasi mendatang yaitu generasi emas," kata Amin.

Lebih lanjut, Amin menjelaskan bahwa persyaratan bebas narkoba ini sama seperti layaknya mengurus untuk persyaratan melamar pekerjaan. Mulai saat ini, pihaknya akan mensosialisasikan program ini ke kantor yang berwenang dan juga masyarakat.


Rencananya, persyaratan calon pengantin bebas narkoba ini akan mulai diterapkan pada Agustus mendatang, di seluruh KUA di Jatim. Adapun untuk catin yang dinyatakan positif narkoba akan langsung ditangani oleh pihak BNN. Yaitu wajib menjalani proses rehabilitasi.

"Kita tidak bisa membayangkan ketika para calon pengantin yang terpapar dengan narkoba. Nanti akibatnya adalah ke janin yang akan dilahirkan. Untuk itu kita bersinergi, mungkin dengan Dinas Kesehatan, Puskesmas, yang ada di kabupaten/kota maupun Provinsi untuk mensosialisasikan ini," jelasnya.

"Ya tes urine ini wajib. Kalau positif gimana? Tidak ada istilah penundaan perkawinan ya. Nanti yang bersangkutan akan diobati atau rehabilitasi. Program ini diawali di Jatim," tambahnya.

Sementara itu, data dari hasil survei yang dilakukan oleh LIPI bekerja sama dengan BNN RI di Jawa Timur dari lingkungan pelajar diperoleh angka prevalensi sebesar 7,5 persen dari 4.638.297 siswa (347.872 siswa penyalahguna narkoba). Untuk lingkungan pekerja, diperoleh angka prevalensi 2,80 persen dari 21.300.423 orang (596.419) penyalahgunaan narkoba.

Brigjen Pol Bambang Priyambadha Kepala BNNP Jatim mengatakan, tingginya angka ini menjadikan pengawasan akan segala aspek yang bisa mengurangi faktor jumlah penyalahguna. Menurutnya, salah satu yang bisa diupayakan untuk menciptakan masa depan bangsa yang bebas dari penyalahgunaan narkoba adalah dengan melakukan pencegahan dan sosialisasi kepada orang tua atau calon orang tua dari anak.

Jumlah angka pernikahan yang cukup tinggi di wilayah Jawa Timur yaitu 294573 jiwa (berdasarkan data sampai bulan November Kemenag Jatim). Untuk itu, BNNP Jatim memandang perlunya pendidikan atau edukasi para calon orangtua terkait bahaya narkoba melalui keberadaan perjanjian kerjasama yang menegaskan tentang perlunya tes urine bagi pasangan yang akan menikah.

"Kita perlu terapkan tes urine ini dengan menggandeng Kanwil Kemenag Jatim. Lalu sosialisasikan ini agar masyarakat terutama calon orang tua semakin aware akan bahaya penyalahgunaan narkotika," tambahnya.

Bambang menilai, pasangan yang baru menikah kelak akan mempunyai keturunan keturunan yang akan menjadi pemimpin dan menjadi penerus bangsa. Sehingga kesadaran orang tua harus dibangun sejak dini yaitu melalui tes urin narkotika sebelum menikah.

"Untuk pasangan yang kedapatan positif saat di tes urine bukan berarti tidak diperbolehkan menikah. Calon pengantin tetap melangsungkan proses pernikahan, namun wajib melapor ke BNNP atau BNN kota/kabupaten RSUD dan Puskesmas Provinsi Jatim untuk dilakukan rehabilitasi gratis," pungkasnya. (ang/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.