KELANA KOTA

Ikan Raksasa Tuntut Pemerintah Kirim Balik Sampah Amerika

Laporan Agung Hari Baskoro | Jumat, 12 Juli 2019 | 17:24 WIB
Replika ikan raksasa bersisik sampah impor dan puluhan sampah plastik di dekat Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya pada Jumat (12/7/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Sejumlah massa dari Brantas River Coalition to Stop Imported Plastic (Bracsip) menggelar aksi protes di dekat Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya pada Jumat (12/7/2019). Berjarak sekitar 200 meter dari kantor Konjen AS, mereka membawa replika ikan raksasa bersisik sampah impor dan puluhan sampah plastik yang ditaruh di jalanan. Jalanan menuju Konjen AS sebelumnya telah ditutup menggunakan pagar berduri.

Prigi Arisandi Koordinator Bracsip mengatakan, mereka meminta agar pemerintah Amerika Serikat tidak lagi mengirim unsorted waste atau sampah yang tidak tersortir. Pasalnya, pengiriman sampah model ini berpotensi dicampuri sampah plastik.

"Sebenarnya Indonesia tidak masalah membeli kertas atau waste paper dari banyak negara untuk bahan baku pabrik kertas kita. Cuman masalahnya waste paper ini dicampuri plasik, sejak Cina menutup pintu impor, semua negara bingung. Salah staunya Amerika, lah Amerika paling banyak ngirim sampah ke kita," ujar Prigi pada Jumat (12/7/2019).

Berdasarkan data yang dimiliki Bragsip, pada tahun 2018, 170 ribu ton sampah dikirim Amerika ke Indonesia. 20-30 persen sampah yang dikirim berjenis food packaging, household product, dan personal care.


"Ini kemudian gak etis. Gimana bisa bilateralnya bagus kalau kita ngirim sampah ke tetangga. Mereka tau kalau ngolah sampah butuh itu merusak lingkungan, air, pencemaran. Kemudian dibuang ke Indonesia," jelasnya.

"Kita minta, Pak Donald Trump, janganlah, tolonglah, jangan lagi mengekspor sampah rumah tangga ke Indomesia. Ini yang kita dorongkan ke pemerintsh Amerika untuk tidak lagi (buang, red) sampah. Karena Indonesia bukan tempat sampah. Karena kita ini sudah dicap negara kemproh. Karena kita ini penyumpang sampah terbesar kedua setelah cina. Kok Amerika menambah lagi sampah. Ini kan tidak etis. Tego mentolo," lanjutnya.

Prigi mengatakan, bahwa Amerika Serikat sebenarnya pasti mengetahui bahwa ada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2016 dan UU Pengelolaan Sampah nomor 18 tahun 2008 yang menyebutkan bahwa tidak boleh ada sampah rumah tangga yang masuk ke Indonesia.

"Maka Amerika telah, satu melanggar hukum Indonesia, kedua melanggar etika bertetangga. Sehingga harus dihukum. Mereka harus minta maaf ke orang Jawa Timur," tegasnya.

Prigi mengatakan, di Jawa Timur terdapat 12-18 industri kertas yang memakai kertas bekas impor sebagai bahan bakunya. Perusahaan ini tersebar di Malang, Kediri, Nganjuk, Mojokerto, Sidoarjo, Gresik, dan Surabaya.

"Ada Importir, industri kertas ini kan sudah lama. Kan harusnya mereka ini dirugikan kalau mereka beli kertas dapat plastik. Tapi faktanya mereka gak pernah komplain. Harusnya APKI, Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, komplain ke negara-negara ini. Tapi mereka tidak. Jadi mereka diuntungkan antara importir dan eksportir. Mereka mendapat untung," tudingnya.

Prigi menilai pemerintah belum cukup tegas dalam mengembalikan sampah-sampah plastik impor yang ada di Indonesia. Diketahui, hingga Juni 2019, masih 5 kontainer sampah impor dikembalikan ke Seattle, Amerika Serikat. Sebanyak 38 Kontainer sampah milik Amerika Serikat masih ditahan untuk diperiksa di Pelabuhan Tanjung Perak.

"Bayangkan, 5 kontainer. Gak ada apa-apanya. Ikut tren aja itu, Filipina kembalikan 2000, kemudian Malaysia ngembalikan 3000, Indonesia cuma 5. Kan tidak cocok itu. Maka harus tegas," pungkasnya. (bas/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.