KELANA KOTA

Kemenristekdikti: Pendidikan Vokasi Masih Fokus Utama

Laporan Ika Suryani Syarief | Jumat, 12 Juli 2019 | 21:50 WIB
Mohamad Nasir Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti). Foto: Kemenristekdikti
suarasurabaya.net - Mohamad Nasir Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) mengatakan pada periode kedua pemerintahan Joko Widodo akan fokus pembangunan sumber daya manusia (SDM) terutama pendidikan vokasi untuk tingkat pendidikan tinggi.

"Konsentrasi pada periode 2019 hingga 2024 ditekankan pada pendidikan vokasi," ujar Menristekdikti di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Jumat (12/7/2019).

Menristekdikti mendorong agar industri turut membangun pendidikan vokasi, seperti Politeknik Manufaktur Astra yang didirikan PT Astra International di Cikarang. Kemudian Telkom yang sejak lama membangun kampus yakni Universitas Telkom di Bandung.

Selain itu, Kemenristekdikti juga mendorong agar industri turut membangun dunia pendidikan, dengan mendirikan politeknik atau latihan lainnya. Apalagi, katanya, saat ini pemerintah sudah mengesahkan aturan "Super Deductible Tax" atau pengurangan pajak penghasilan bruto di atas 100 persen.


Aturan tersebut, kata Nasir, akan merangsang pertumbuhan riset dan pendirian program vokasi oleh pihak industri.

Mohammad Nasir menambahkan kesesuaian perkuliahan dengan dunia industri sangat diperlukan. Menurut dia, suatu prodi harus mendidik SDM yang menguatkan industri. Sehingga lulusan tersebut bisa menggerakan ekonomi yang lebih baik di Indonesia.

Sebelumnya,Kemenristekdikti melakukan perubahan fundamental terhadap pendidikan vokasi melalui program revitalisasi pendidikan tinggi vokasi. Progam tersebut untuk meningkatkan relevansi pendidikan politeknik dengan kebutuhan industri pengguna lulusannya. Demikian dilansir Antara.(ant/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.