KELANA KOTA

Sering Jadi Polemik, Perbatasan Indonesia-Malaysia di Sebatik Diukur Ulang

Laporan Agustina Suminar | Minggu, 14 Juli 2019 | 20:54 WIB
Ilustrasi. Pasukan TNI akan melaksanakan tugas operasi pengamanan perbatasan (Pamtas) RI-RDTL di Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: Penrem 042/Gapu
suarasurabaya.net - Batas negara Indonesia dengan Malaysia di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, akhirnya diukur ulang oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) Indonesia dengan Jabatan Ukur dan Pemetaan (JUPEM) Malaysia untuk menyudahi polemik yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Pengukuran dan pengecekan serta pemetaan batas kedua negara untuk menentukan batas terbaru dengan pengawalan ketat Kompi 1 Pulau Sebatik Satgas Pamtas Batalion Infanteri Raider 600 Modang dan Tentara Diraja Malaysia(TDM) pada Minggu (14/7/2019).

Pengawalan dari Satgas Pamtas Yonif Raider 600 MDG dipimpin Hartoyo Perwira Topografi Ltd Corp Topografi.

Prajurit pengamanan perbatasan kedua negara dilibatkan dalam pengawalan untuk mengecek posisi patok-patok perbatasan yang menjadi perebutan kedua negara.


Pengecekan yang berlangsung selama tiga hari dimulai dari patok di wilayah Timur Pulau Sebatik hingga wilayah barat dengan melewati 10 patok kelanjutan dari program nasional dari Direktorat Topografi Mabes TNI.

Mayor Inf Ronald Wahyudi Komandan Satgas Pamtas Yonif Raider 600 MDG mengatakan, kegiatan ini menjadi titik cerah batas negara Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik.

"Diharapkan dengan adanya pengukuran ulang ini akan dapat segera mempertegas batas negara yang selama ini di perdebatkan. Kami sebagai satuan yang sedang bertugas untuk menjaga perbatasan juga dapat melaksanakan tugas dengan maksimal kedepanya," kata Ronald.

Ia menegaskan, Satgas Pamtas Yonif Raider 600 MDG berkewajiban melakukan pengamanan dan pengawalan bagi Tim BIG Indonesia. (ant/tin/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.