KELANA KOTA

Kementan Minta Petani Cabai Antisipasi Panen Raya dan Harga Anjlok

Laporan Dwi Yuli Handayani | Selasa, 16 Juli 2019 | 07:43 WIB
Ilustrasi. Foto: dok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Kementerian Pertanian meminta kepada petani cabai supaya mengantisipasi datangnya panen raya yang akan menjatuhkan harga cabai, salah satunya dengan menggandeng pabrik untuk pengeringan cabai.

"Kami meminta kepada petani cabai untuk mengantisipasi terjadinya panen raya pada sepuluh hari sampai dua pekan mendatang," kata Suwandi Dirjen Hortikultura Kementan RI saat melakukan kunjungan kerja di Sidoarjo, Jatim.

Ia mengemukakan, untuk produksi cabai tidak lama lagi akan panen raya, karena untuk tanaman bulan April-Mei saat ini sudah mulai dipanen meskipun jumlahnya masih belum banyak.

"Tetapi untuk puncaknya masih sekitar dua pekan lagi," katanya, seperti dilansir Antara.


Ia mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan ketika terjadi panen raya tersebut adalah menggandeng perusahaan untuk pengeringan cabai, demi menjaga supaya harga cabai tidak anjlok.

"Saat ini para petani sedang menikmati harga cabai yang cukup tinggi, tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena sebentar lagi akan panen raya," katanya.

Ia menjelaskan, pemerintah bersama-sama dengan petani dan perusahaan akan bertemu demi mengantisipasi panen raya ini.

"Dengan demikian, para petani tidak sampai merugi dengan anjloknya harga cabai," katanya.

Sebelumnya, salah satu pedagang sayuran di Pasar Besar Madiun, Suyati, mengatakan harga cabai lokal saat ini berkisar antara Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram. Harga itu merata untuk cabai jenis rawit, keriting, maupun merah besar.

"Harga cabai naik bertahap sejak dua minggu terakhir. Sekarang saja sudah hampir Rp60.000 per kilogram. Terutama untuk cabai rawit dan keriting," ujar Suyati. (ant/dwi)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.