KELANA KOTA

Khofifah: Perlu Intervensi Kolaborasi Lembaga Mencegah Stunting di Jatim

Laporan Anggi Widya Permani | Sabtu, 20 Juli 2019 | 21:56 WIB
Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur. Foto: Humas Pemprov Jatim
suarasurabaya.net - Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur menilai perlunya intervensi kolaborasi dengan berbagai lembaga terkait untuk mempercepat pencegahan stunting di wilayah setempat.

"Percepatan pencegahan stunting ini perlu ada intervensi kolaborasi dengan berbagai lembaga, salah satunya Ikatan Bidan Indonesia (IBI)," kata Khofifah dilansir Antara, Sabtu (20/7/2019).

Menurut dia, saat ini stunting dan angka kematian ibu masih menjadi pekerjaan rumah di Jatim.

Sesuai data dari Dinas Kesehatan Jatim berdasarkan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) per 20 Juli 2019, prevalensi stunting balita di Jatim masih tinggi, yakni sebesar 36,81 persen.


Sedangkan, tiga daerah tertinggi prevalensinya yaitu di Kota Malang sebanyak 51,7 persen, Kabupaten Probolinggo 50,2 persen dan Kabupaten Pasuruan 47,6 persen.

Selain itu, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalensi stunting balita umur 0 sampai 59 bulan di Jatim mencapai 32,81 persen. Angka ini, kata dia, lebih tinggi dari prevalensi stunting nasional yakni sebesar 30,8 persen.

Khofifah mengatakan, khusus permasalahan stunting telah menjadi kesadaran kolektif mulai dari Presiden hingga masyarakat, bahkan disadari persoalan ini perlu ditangani serius.

"Pihak Kemenkeu menyadari bahwa seluruh energi telah diberikan untuk menyiapkan sumber daya manusia berkualitas, tetapi kalau jumlah penduduk yang stunting tidak tereduksi maka akan menjadi beban," kata dia.

Khofifah berharap, IBI Jatim turut menjadi ujung tombak di daerah-daerah, terutama yang jumlah penderita stunting tinggi, termasuk jumlah kematian ibu dan bayi. (ant/ang)
Editor: Zumrotul Abidin



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.