KELANA KOTA

Fahri: Kita Jangan Mau Diadu Domba dari Kasus Enzo

Laporan Muchlis Fadjarudin | Rabu, 14 Agustus 2019 | 21:41 WIB
Fahri Hamzah Wakil Ketua DPR RI. Foto: dok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Fahri Hamzah Wakil Ketua DPR RI, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang telah bersikap benar, dengan mempertahankan Enzo Zenz Allie (18), pemuda Indonesia berdarah Perancis sebagai taruna di Akademi Militer (Akmil).

"Saya berterima kasih kepada para petinggi TNI, yang telah bersikap benar. Bahwa Enzo adalah WNI dengan seluruh haknya untuk menjadi mahasiswa Akmil. Dan karena kemampuannya termasuk bahasa asing, setelah dites dia lulus. Cukup!," kata Fahri melalui pesan yang diterima wartawan, Rabu (14/8/2019).

Fahri menegaskan bahwa Indonesia dengan demokrasi yang diterapkan dan UU yang dibuat, dirancang untuk memiliki pikiran terbuka. Karena itu, menyempitnya cara berpikir, terutama tentang agama akan membuat negara ini menyingkir dari kemajuan dunia.

"Jangankan menerima tamu, warga sendiri kita curigai. Ingat ! Kita jangan mau diadu domba dan anak-anak bangsa seperti Enzo Zenz Allie dan anak-anak campuran lainnya adalah masa depan. Dunia sedang dilengkapi oleh fasilitas komunikasi dan transportasi yang memungkinkan interaksi global terjadi secara massif. Pikiran kita harus terbuka. Harus waras dan rasional," tegasnya.


Terkait yang sempat marak atas penolakan terhadap Enzo yang sempat viral di media sosial karena diduga terafiliasi dengan ormas terlarang di Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Fahri menegaskan bahwa pandangan pribadi dan pilihan politik orang bukan dosa di negeri ini.

"Itu masa lalu, ada banyak yang bangga dengan ideologi komunis, toh jadi pejabat publik. Kenapa pula santri bule ini jadi masalah? Inilah penyakit kambuh kita, mentalitas yang tidak bagus diteruskan," tegasnya saambil mengimbau agar memberi kesempatan kepada Enzo dan generasi baru negeri ini yang lebih terbuka pikirannya.

Untuk itu,Fahri meminta semua pihak agar jangan rusak mereka dengan konflik ideologi dan politik aliran yang selalu main belakang dalam politik formal.

"Saya tidak kenal (Enzo). Tetapi karena saya pernah menjadi Panja Undang-Undang Imigrasi yang senafas dengan UU Kewarganegaraan, saya ingin sedikit memberi catatan," kata dia.

Dia mengaku tidak mengenal Enzo Zenz Allie tapi mengenal Clovis yang sama-sama berdarah campuran, saat sebagai Ketua Panja UU Imigrasi UU No.6/2011. Saat itu, Fahri mengaku mengenal dan belajar banyak dari warga negara Indonesia yang menikah dengan warga negara asing.

"UU kewarganegaraan dan UU Imigrasi melalui Panja DPR RI mengadakan dengar pendapat dengan mereka. Lalu, UU memberikan pilihan kepada mereka setelah umur 18 tahun mau memilih menjadi warga negara Indonesia atau warga negara asing, karena kita tidak menganut kewarganegaraan ganda (dual citizenship). Enzo Zenz Allie dan Clovis telah memilih menjadi WNI sesuatu yang hebat," kata Fahri.

Menurut Fahri, menjadi warga negara Perancis adalah warga negara yang penuh kemudahan dan jaminan. Satu yang pasti, passport WNI akan menjadi passport yang mendapat kemudahan visa ke seluruh dunia, juga mendapat 'baik sangka' sebagai warga dunia kelas satu.

Sekadar diketahui, Enzo Zenz Allie (18), pemuda berdarah Perancis, satu dari 346 calon taruna (catar) yang lolos, dari 634 taruna dan taruni Akademi Militer (Akmil) 2019. Sosok Enzo yang lahir dan besar di Paris ini menjadi perhatian Marsekal Hadi Tjahjanto Panglima TNI .

Bahkan saat dihadapan Panglima TNI, Enzo yang merupakan pemuda yang ayahnya berasal dari Perancis dan ibunya orang Indonesia itu mengutarakan niatnya menjadi prajurit Infanteri dan Kopassus. Enzo lahir dan besar di Paris, namun beranjak remaja, keluarganya kembali ke Indonesia, saat usianya 13 tahun.

Sayangnya, tidak lama berselang, Enzo memicu kontroversi karena dituding simpatisan ormas terlarang yakni HTI. Dugaan Enzo sebagai pendukung HTI viral setelah foto-fotonya beredar di media sosial.(faz/dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.