KELANA KOTA

Lenis Kogoya: Ada Dua Mama Papua di Jatim

Laporan Anggi Widya Permani | Rabu, 21 Agustus 2019 | 06:04 WIB
Lenis Kogoya Ketua Masyarakat Adat Tanah Papua menemui Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya, di Rumah Dinas Wali Kota Surabaya, Jalan Walikota Mustajab, Selasa (20/8/2019) malam. Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Lenis Kogoya Ketua Masyarakat Adat Tanah Papua menemui Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya, Selasa (20/8/2019) malam. Pertemuan dengan Staf Khusus Presiden untuk Wilayah Papua ini berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota Surabaya, Jalan Walikota Mustajab.

Dari pantauan suarasurabaya.net, pertemuan yang berlangsung hangat itu dihadiri perwakilan mahasiswa Papua. Dalam kesempatan itu, Risma mendengarkan cerita mahasiswa Papua. Mulai prestasi yang diraih sampai kendala yang mereka alami selama kuliah.

Mereka pun tampak senang, ketika Risma bersedia membantu permasalahannya. Seperti menyediakan beasiswa dan memfasilitasi mahasiswa yang berprestasi. Mendengar hal itu, Lenis Kogoya mengaku senang dan bersyukur.

Menurutnya, mahasiswa Papua yang ada di Jatim sangat beruntung. Ada dua Mama Papua yang begitu peduli. Di antaranya Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim dan Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya.


"Jawa Timur, Surabaya, saya merasa bahwa mungkin ke depan lebih baik ini dijadikan contoh untuk yang lain. Di sini warga Papua jadi kepala dinas, Kasubag Humas, dan lain-lain. Bu Risma juga sering memberikan pelatihan," kata dia.

Dia berharap, tidak ada lagi keributan. Baginya, permintaan maaf yang disampaikan berbagai pihak di Jatim sudah cukup. Permasalahan kemarin tidak perlu diungkit lagi. Karena Papua dan Jatim bersaudara.

"Sekarang kita pikirkan bagaimana membangun kebersamaan untuk masa depan Indonesia. Demo sudah selesai. Seperti kata Pak Presiden, kita harus menahan emosi. Kemarin Gubernur, Wali Kota Surabaya, Wali Kota Malang sudah meminta maaf. Saya dengar ormas tadi juga sudah. Mau minta maaf apa lagi?," kata dia.

Sementara itu, Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya berharap mahasiswa Papua tetap semangat belajar. Adapun kendala mereka yang disampaikan malam ini, pihaknya akan berusaha membantunya.

Risma mengungkapkan, selama ini hubungan Surabaya dengan Papua terjalin baik. Menurutnya, keributan yang terjadi itu dipicu berita-berita hoaks di media sosial.

"Di kegiatan Pemkot Surabaya, mereka (mahasiswa Papua, red) kami undang. Kalau saya ada tamu dari luar negeri, ada mahasiswa Papua yang jadi liaison officer. Terus penampilan tari. Dengan Wali Kotanya juga gak ada masalah. Karena sebenarnya penyebaran berita hoaks itu tadi," kata dia.

Risma menegaskan, tidak ada yang dibeda-bedakan. Dia mengungkapkan, banyak pegawainya yang juga berasal dari Papua. Mereka bisa bekerja dan menorehkan berbagai prestasi di Kota Surabaya.

"Untuk apa kita bermusuhan. Gak ada gunanya. Karena kalau kita musuhan, kita tidak bisa berpikir untuk maju. Sudah banyak contohnya di negara-negara yang terpecah belah," pungkasnya. (ang/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.