KELANA KOTA

Mahasiswa Stikom Ciptakan Alat Deteksi Dini Banjir Berbasis Internet

Laporan Agung Hari Baskoro | Rabu, 21 Agustus 2019 | 14:55 WIB
Ahmad Iqbal Reza Fahmi pencipta inovasi alat pendeteksi dini bencana banjir berbasis internet.Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Mahasiswa Stikom Surabaya menciptakan alat pendeteksi dini bencana banjir berbasis internet. Ahmad Iqbal Reza Fahmi sang pencipta inovasi ini mengatakan, melalui alat ini, masyarakat bisa memantau kondisi ketinggian air sungai darimana saja.

"Data ketinggian antara daratan dan permukaan air akan dikirimkan ke sebuah alat peringatan melalui jaringan internet. Jaraknya sejauh-jauhnya. Yang penting ada internet. Beda kota bisa, beda negara juga bisa," ujar Iqbal ketika ditemui di pameran karya Stikom pada Rabu (21/8/2019).

Alat pendeteksi dini banjir ini terdiri dari dua alat. Satu alat dipasang disungai berupa sensor, dan satunya sebuah alat peringatan yang dilengkapi sirine.

Iqbal menegaskan, yang diukur alat ini bukan kedalaman sungai, tapi jarak permukaan air sungai dengan daratan. Ia membagi peringatan ini dalam empat kategori, yaitu siaga 1, siaga 2, siaga 3, dan aman.


"Kalau di kondisi nyata (di sungai, red), kalau sensornya bagus saya rekomendasikan 1 meter untuk siaga 1, siaga2 berjarak 1-2 meter, siaga 3 berjarak 3-5 meter. (kalau, red) aman dibawah lima meter," katanya.

Beberapa informasi yang bisa dilihat dari alat peringatan adalah status kondisi siaga dan waktu delay antara kondisi di lapangan dengan yang terkirim. Delay ini, kata Iqbal tergantung dari kekuatan jaringan internet yang ada. Jika bagus, maka delay hanya berjarak 1-3 detik saja.

Ia mengaku, ide ini muncul sekitar bulan juni-juli 2019 ketika banyak pemberitaan mengenai banjir di beberapa daerah. Menurutnya, kerugian akibat banjir bisa diminimalisir jika masyarakat mengetahui hal tersebut lebih awal sehingga lebih waspada.

Untuk membuat alat ini, ia mengaku membutuhkan waktu 1 bulan dengan biaya Rp. 1,5 juta. Jika alat ini direalisasikan di sungai, ia mengklaim, biaya yang dibutuhkan hanya sekitar Rp. 2 juta saja.

Ia mengaku masih akan mengembangkan teknologi ini sebelum nanti ditawarkan pada stakeholder terkait kebencanaan di Indonesia. (bas/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.