KELANA KOTA

Pelatihan Bisindo, Upaya Bangun Inklusivitas di Surabaya

Laporan Agung Hari Baskoro | Minggu, 08 September 2019 | 15:23 WIB
Renjana Inclusive menggelar pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) di Multifunction Room BG Junction Mall, Surabaya pada Minggu (8/9/2019). Pelatihan ini merupakan kerjasama dengan Komunitas Arek Tuli (Kartu). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Renjana Inclusive bekerjasama dengan Komunitas Arek Tuli (Kartu) menggelar pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) di Multifunction Room BG Junction Mall, Surabaya pada Minggu (8/9/2019).

Billy Purwo Caroko Director Renjana Inclusive mengatakan, kelas ini sengaja diadakan secara berkala untuk membangun inklusivitas di kota Surabaya.

"Jadi untuk Surabaya, tren belajar Bisindo naik. Meskipun kalau dibanding Jogjakarta dan Jakarta belum. Tapi di Surabaya trennya mulai naik. Impact-nya (dampak) banyak anak-anak muda, kita bisa memahami kalau kita gak boleh sebut tuna rungu, tapi tuli, dan sebagainya," kata Billy di lokasi pada Minggu (8/9/2019).

"Awareeness itu sudah ada. Sisanya di kelas kita, lebih menekankan berkomunikasi dengan cara tuli, jadi dengan cara budaya-budaya mereka juga," lanjutnya.


Kelas Bisindo sendiri dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dikhususkan bagi para teman dengar yang sebelumnya pernah kelas Bisindo. Sedangkan sesi kedua dikhususkan bagi para teman dengar yang baru pertama belajar bahasa isyarat. Di kelas ini, mereka dilatih langsung oleh teman tuli dari Kartu. Kelas diawali dengan belajar bahasa isyarat huruf A-Z.

Billy mengatakan, hal terpenting untuk membangun inklusivitas di Surabaya adalah keterbukaan. Baginya, jika keterbukaan sudah terbangun, maka hal-hal lain seperti infrastruktur akan mengikuti.

Selain menggelar kelas Bisindo, Renjana Inclusive juga fokus pada isu disabilitas lain. Seperti menggelar kelas menulis untuk teman tuli dan pengembangan buku digital serta bioskop bisik untuk teman netra.

"Kita di Renjana sadar penuh. Kita memegang prinsip. Prinsip pertama itu, kesetaraan. Kalau kita bisa kuliah. Bisa ngobrol sama orang, temen-teman tuli juga bisa. Kedua, saya yang non disabilitas itu bisa jadi disabilitas di kemudian hari. Kita pengen membekali diri sendiri juga. Sehingga kita siap, tidak depresi dan bunuh diri," pungkasnya. (bas/tin/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.