KELANA KOTA
Hari Radio Nasional

Radio Tetap Eksis, Perkembangan Teknologi Adalah Peluang

Laporan Ika Suryani Syarief | Rabu, 11 September 2019 | 18:07 WIB
Errol Jonathans, Direktur Utama Suara Surabaya Media. Foto: Totok/Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - "Penyesuaian diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di publik adalah sebuah keniscayaan bagi industri radio. Mulai dari pergeseran budaya komunikasi dan informasi karena proses regenerasi konsumen, sampai pesatnya perkembangan teknologi," kata Errol Jonathans Direktur Utama Suara Surabaya Media di Hari Radio Nasional ke-74, Rabu (11/9/2019).

Suara sebagai kekuatan radio, kata Errol, tidak akan tergantikan oleh teknologi secanggih apapun. "Media sosial memang bisa memviralkan informasi. Tetapi radio mampu menggerakkan pendengar," kata Errol.

Perkembangan teknologi, kata Errol, justru menjadi peluang besar bagi industri radio. Misalnya, kemunculan konsep radio visual: gambar, teks, atau visual bergerak yang dihadirkan media sosial dan aplikasi dapat melengkapi kekuatan suara radio.

"Dengan sistem konvergensi yang diterapkan Suara Surabaya, konten media sosial dan radio visual tugasnya melengkapi radio. Konten di radio tetap menjadi sumber utama konten di media lainnya. Konten media sosial bisa saja diangkat ke radio, tapi tetap melalui proses verifikasi redaksi," ucapnya.


Dengan adanya proses verifikasi yang kredibel, radio juga bisa menjadi validator informasi di tengah banjir hoaks di internet dan media sosial. Selain itu, karakteristik imajinatif radio juga masih tidak bergeser.

"Kekuatan imajinasi tentang sosok memang sudah lewat. Kekuatan imajinasi radio sudah tidak seperti dulu lagi karena media sosial. Sosok penyiar sekarang terekspos, tak lagi misterius. Tetapi imajinasi dari kekuatan kata-kata, makna, dan rasa bahasa, masih sangat kuat," kata Errol.

Maraknya tren podcast belakangan ini, menurut Errol, juga menjadi bukti bahwa audio masih digemari sampai saat ini. Maka, kalau ada stasiun radio yang semakin ditinggal pendengarnya, bisa jadi itu karena kontennya yang kurang sesuai kebutuhan publik.

"Bukan mediumnya yang kuno. Saya percaya, konten masih jadi raja," kata Errol.

Di luar konten radio yang harus sesuai dengan kebutuhan publik, penyiar juga membawa peran penting bagi keberlanjutan radio. Kata Errol, radio akan tetap didengar bila komunikasi penyiar dengan pendengar selayaknya kawan dekat, sahabat yang saling setia. (iss/den)
Editor: Denza Perdana



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.