KELANA KOTA

Polisi Memburu 12 Buron Kerusuhan Papua Barat

Laporan Dwi Yuli Handayani | Rabu, 11 September 2019 | 16:32 WIB
Brigjen Herry Rudolf Nahak Kapolda Papua Barat. Foto: papuadalamberita
suarasurabaya.net - Polisi masih memburu 12 terduga pelaku yang masuk dalam daftar pencarian orang/buron (DPO) pada rentetan kerusuhan yang terjadi di Papua Barat.

Brigjen Herry Rudolf Nahak Kapolda Papua Barat di Manokwari, Rabu (11/9/2019) menyebutkan dalam kasus kerusuhan di Manokwari, pihaknya sudah menahan 14 tersangka. Di Sorong dan Fakfak masing-masing 12 dan tiga orang tersangka.

"Daerah lain tidak ada, kerusuhan saat itu hanya terjadi di tiga daerah ini. Semua tersangka kami tahan, 12 yang DPO ini kalau tertangkap, juga akan ditahan," ujar Nahak, seperti dilansir Antara.

Dia menjelaskan, para tersangka ini diduga terlibat dalam sejumlah kejahatan yang terjadi sejak 19 hingga 21 Agustus lalu, berupa perusakan, pembakaran dan pejarahan. Tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lain dalam kerusuhan tersebut.


Polisi, lanjut Kapolda, juga masih menyelidiki kemungkinan keterlibatan pihak-pihak yang menyuruh para pelaku dalam melakukan tindak kejahatan.

"Dalam hukum tidak ada istilah aktor intelektual atau provokator, yang ada adalah pihak yang menyuruh. Kita ingin memastikan apakah tindakan pelaku ini murni spontanitas atau ada pihak-pihak yang menyuruh," ujar Kapolda lagi.

"Bisa jadi pihak yang menyuruh itu ada dalam 12 DPO itu, kami juga belum tahu. Pengembangan masih terus kami lakukan," ujar Herry menambahkan.

Ia mengemukakan, dari seluruh kejadian tindak pidana pada kerusuhan itu tidak seluruhnya dikendalikan orang lain. Sebagian besar terjadi secara spontanitas.

Kapolda memastikan, tidak ada anak di bawah umur yang ditangkap dalam peristiwa itu, baik di Manokwari, Sorong dan Fakfak. Para tersangka rata-rata berusia 20 tahun ke atas, termasuk 12 DPO. (ant/dwi)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.