KELANA KOTA

Bagi Tips, Ingatkan Masyarakat Bahaya Kloning Akun dan Wifi Publik

Laporan J. Totok Sumarno | Kamis, 12 September 2019 | 14:57 WIB
Dua mahasiswa Universitas Narotama Surabaya, berbagi tips bahaya WiFi publik, Kloning akun. Foto: Humas Unnar
suarasurabaya.net - Bahaya penggunaan WiFi publik dan Kloning akun wajib dipahami masyarakat, saat menggunakan WiFi publik. Terutama jika gadget atau aplikasi yang ada pada masyarakat masih belum diperbaharui.

Bagus Prasetyo Budiono dan Damara Putra Pratama, 2 mahasiswa Sistem Informasi Universitas Narotama, Surabaya, berbagi tips agar masyarakat lebih waspada saat menggunakan WiFi publik serta beberapa aplikasi.

"Kalau hardware gadgetnya baru tidak masalah. Tapi kalau gadget lama biasanya ini rawan terjadi kloning akun. Ketika seseorang memakai WiFi publik lalu membuka aplikasi Whatsapp yang belum diperbarui, akun Whatsapp bisa dikloning hanya dengan menggunakan MAC address dari hardware. Pemilik WiFi publik bisa membaca Whatsapp atau aplikasi apapun yang digunakan oleh pengguna WiFi publik," kata Bagus.

Mahasiswa yang mendalami bidang Cyber Security tersebut juga meminta masyarakat berhati-hati jika ada permintaan untuk menghubungi kontak dengan awalan tanda * ataupun # yang diikuti dengan nomor kontak mereka.


"Itu sebenarnya adalah sistem SMS notifikasi untuk takeover akun Whatsapp dengan nomor kontak tersebut. Kalau sudah begitu, akun Whatsapp akan langsung berpindah gadget karena 1 akun Whatsapp hanya bisa digunakan di 1 gadget, kecuali Whatsapp Web," lanjut Bagus menjelaskan.

Cara lain yang digunakan oleh hacker adalah dengan notifikasi pop up tentang adanya virus di gadget ketika kita sedang membuka suatu website.

"Itu banyak sekali yang terjebak karena kita pasti takut kalau ponsel kita kena virus. Nah ketika pop-up itu diklik, akan otomatis mengunduh aplikasi yang nantinya bisa mengambil data dari ponsel kita," papar Bagus.

Untuk menghindarinya, Damar menambahkan, pengguna gadget harus melakukan update secara berkala, baik aplikasi maupun gadget mereka.

"Misalnya saja Whatsapp. Kalau belum update versi terbaru akan ada celah di keamanan sehingga jika terkoneksi dengan WiFi publik, akun Whatsapp akan dengan mudah terkloning. Update Operating System (OS) juga sangat penting. Misalnya, Android terbaru memiliki Google Play Protect yang akan mencegah browser atau website mengunduh aplikasi secara otomatis," tegas Damar.

Namun, masyarakat awam kadang meremehkan masalah update software dan hardware ini. Apalagi banyak yang kemudian beralasan memori penyimpanan ponsel mereka sudah tidak cukup untuk melakukan update versi terbaru.

"Ini memang sudah menjadi risiko sebagai pengguna internet dan teknologi. Mau tidak mau kita harus terus mengikuti perkembangan teknologi. Update OS terbaru, upgrade ponsel, juga memperbarui versi dari aplikasi-aplikasi yang digunakan sehari-hari. Karena jika tidak ya konsekuensinya akan rawan menjadi korban kejahatan," ungkap Damar.

Belum lagi dengan banyaknya aplikasi yang menarik untuk digunakan, namun kita tidak mengerti seberapa aman aplikasi tersebut atas data yang kita input.

"Ketika akan mengunduh aplikasi, usahakan dicek benar permissionnya. Apa saja yang akan dibaca oleh aplikasi tersebut. Kita wajib was-was kalau ada permission yang tidak sesuai peruntukannya. Misalnya aplikasi edit foto tapi meminta permission untuk mengakses kontak, dan lain sebagainya," ujar Damar mahasiswa semester 8 ini.

Satu lagi yang harus diwaspadai adalah penggunaan VPN yang ternyata sangat berbahaya. Data dari gadget yang menggunakan VPN negara tertentu akan dibelokkan ke negara itu sebelum dilanjutkan ke website tujuan. "Menggunakan WiFi publik yang hanya dimiliki pihak tertentu di negara yang sama saja sudah berbahaya, apalagi jika data kita terbaca oleh negara lain," pungkas Damar, Kamis (12/9/2019).(tok/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.