KELANA KOTA

Dosen Teknik Informatika ITS Raih Peringkat Pertama SINTA Award 2019

Laporan J. Totok Sumarno | Senin, 16 September 2019 | 16:23 WIB
Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD., Dosen Teknik Informatika ITS (kiri) sedang memberikan penjelasan pada mahasiswanya. Foto: Humas ITS Surabaya
suarasurabaya.net - Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD., Dosen Teknik Informatika ITS meraih peringkat pertama Publikasi Ilmiah Kategori Penulis dalam Science and Technology Index (SINTA) Award 2019.

Penghargaan bergengsi di kalangan akademisi dan peneliti nasional ini dianugerahkan Prof Mohamad Nasir, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti).

Selain meraih penghargaan bergengsi tersebut, ITS sebagai lembaga juga berhasil menyabet peringkat ketiga pada penghargaan Publikasi Ilmiah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kategori Lembaga di ajang SINTA Award ini.

Prof Riyanarto Sarno menjelaskan bahwa SINTA Award memberikan penghargaan dengan berbagai kategori tahun ini. "Satu diantaranya Penghargaan Publikasi Ilmiah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kategori Penulis yang saya dapatkan ini," terang lulusan News Brunswick University, Kanada ini.


Dosen yang akrab disapa Riyan ini juga menjelaskan, banyak hal yang menjadi indikator penilaian dalam penganugerahan ini. Di antaranya terkait jumlah publikasi yang ter index Scopus serta jumlah sitasi oleh google scholar dalam kurun waktu tiga tahun ke belakang.

Bersaing bersama 173.971 dosen dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia, Riyan berhasil mendulang total nilai 92,17. Nilai ini membuat pria yang memiliki 18 H index Scopus ini unggul di peringkat pertama. Tahun lalu, Riyan masih berada di peringkat tiga di kategori yang sama.

Sementara itu, terkait riset dan publikasi ilmiah, Riyan menjelaskan bahwa riset membutuhkan fokus serta kolaborasi. Menurutnya, kolaborasi yang dilakukan baik oleh dosen atau mahasiswa dengan berbagai mitra di dalam atau luar negeri dapat melahirkan ide-ide penelitian baru.

"Iklim penelitian di ITS memang cukup baik, namun kita masih harus berusaha lebih baik lagi," papar mantan Dekan Fakultas Teknologi Informasi (FTIf) ITS periode 2007-2011 ini.

Karena itu, tambah Riyan yang satu diantara penelitiannya terkait dengan pengembangan mix reality otak untuk persiapan operasi otak ini, semua sivitas akademika ITS harus berbenah.

Bagi Riyan, mahasiswa ITS harus menempatkan diri bukan sebagai pencari gelar semata, tetapi juga mencari kompetensi diri lewat penelitian dan inovasi.

"Selain itu, institusi juga perlu mendorong dengan pemberian insentif kepada para peneliti. ITS serta Kemenritekdikti sendiri telah memberikan dana," kata Riyan.

Riyan berharap, penghargaan yang telah ia peroleh dapat mendorong peningkatan kultur penelitian yang lebih baik bagi ITS. Karena menurutnya, dasar dari penulisan jurnal ilmiah adalah penelitian. "Maka penelitian untuk menunjang publikasi ini membutuhkan iklim yang kondusif dan meningkat," ujar Riyan mengingatkan.

Riyan juga berharap, ke depan nanti akan lahir banyak penulis yang produktif di ITS. Sehingga, lanjut Riyan hal ini akan berimbas pada kenaikan peringkat ITS dalam SINTA Award. "Jumlah dosen kita mumpuni untuk mengejar ketertinggalan, kita harus lebih semangat untuk produktif," pungkas Riyan.

Sementara itu, Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng., Rektor ITS menyampaikan bahwa sejak 2018 memang produktivitas publikasi Ilmiah ITS meningkat menjadi 1.400 publikasi.

"Yang artinya, dengan kurang lebih 1.000 dosen tetap, angka 1.400 memiliki arti setiap dosennya telah melakukan publikasi minimal satu atau dua," jelas Ashari sapaan Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng., Rektor ITS.

Terkait perolehan nilai tersebut, lebih lanjut Rektor kelahiran Sidoarjo ini memaparkan, terdapat sembilan langkah yang dilakukan ITS untuk menghasilkan publikasi sebanyak itu. Yakni, memberikan insentif publikasi dosen, meningkatkan jumlah dana penelitian lokal, meningkatkan kerjasama penelitian, dan mengembangkan skema pendanaan baru dimana skema tersebut akan diarahkan pada publikasi internasional.

"Pengembangan skema pendanaan baru meliputi KP (Kerjasama Penelitian), KMPI (Klinik Makalah Publikasi Internasional), PAP (Program Asisten Peneliti), dan BPUP (Beasiswa Pascasarjana Untuk Peneliti)," tambah Ashari.

Nantinya, lanjut Ashari, dosen yang jurnalnya berhasil terindeks Scopus akan diberikan pendanaan. Dengan begitu, diharapkan para dosen akan berlomba-lomba melakukan lebih banyak lagi publikasi yang bermanfaat.

Selain itu, kata Ashari terdapat pula progam pengembangan dan peningkatan Publikasi Online ITS (POMITS), peningkatan kinerja laboratorium melalui Lab Based Education (LBE), pengembangan program percepatan publikasi perbaikan sistem monitoring dan evaluasi, serta pengefektifan seminar internasional dan jurnal ITS.

"Sembilan langkah tersebut kami lakukan sebaik mungkin, karena peran publikasi ilmiah sangat penting dalam membantu menyebarkan manfaat penelitian ke dunia luar," tegas Ashari.

Sementara untuk ke depannya, Ashari optimistis bisa menaikkan angka publikasi ITS dari 1.400 menjadi 2.700 pada tahun 2020. "Target ini merupakan wujud kepedulian ITS untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kontribusinya di bidang publikasi, khususnya terkait sains dan teknologi," tutup Ashari.(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA