KELANA KOTA

Khofifah Mungkinkan Penerapan Kereta Layang dari China untuk Panderman-Bromo

Laporan Denza Perdana | Selasa, 17 September 2019 | 19:44 WIB
Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim saat ditemui di Gedung Negara Grahadi, Selasa (17/9/2019). Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur memungkinkan penerapan skytrain (kereta layang) untuk menghubungkan Gunung Panderman dengan Kawasan Gunung Bromo.

Ini untuk menjawab hasil rapat koordinasi antarkepala daerah, baik Wali Kota Batu, Wali Kota Malang, dan Bupati Malang mengenai adanya LRT yang mengoneksikan Malang Raya.

"Terakhir, Kamis lalu, mereka rapat kemudian disampaikan ke saya, meminta ada LRT yang terkoneksi di Malang Raya. Tadi malam kami dapat tamu calon investor dari CRRC ngasih opsi skytrain," katanya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, tawaran kereta layang ini datang dari Aerobus China Inc kepada Khofifah. Menurut Khofifah, kereta layang itu bisa menjadi pilihan yang lebih fleksibel.


"Misalnya, kan, sekarang ini sedang di-exercise (dicoba) cable car (kereta gantung) ke Gunung Panderman. Skytrain saya kira memungkinkan untuk membangun koneksitas Panderman ke Bromo," ujarnya.

Kereta gantung dan kereta layang itu nantinya bisa diakses masyarakat melalui sejumlah stasiun yang lokasinya akan ditentukan supaya bisa mengoneksikan Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang.

"Ini masih bergulir, berseiring (pembangunan) KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Singhasari. KEK Singhasari ini akan jadi daya ungkit startup Jawa Timur yang akan terkonsentrasi di Malang Raya," katanya.

Malang Raya, kata Khofifah, akan menjadi penyanggah bagi pengembangan kawasan Bromo-Tengger-Semeru (BTS) dan Selingkar Wilis, yang menjadi proyek prioritas di Jatim untuk lima tahun ke depan.

Koneksitas Malang Raya dengan BTS dan Selingkar Wilis melalui transportasi kereta gantung maupun kereta layang, atau jenis transportasi lain yang sedang dimatangkan, dia harap bisa bikin wisatawan asing tinggal lebih lama di Jatim.

Selama ini, wisatawan yang datang ke Indonesia melalui jalur laut dengan kapal pesiar (cruise) rata-rata tinggal di Indonesia selama 14 hari. Dua hari di Borobudur, dua hari di Bromo dan Ijen, lalu 10 hari di Bali.

"Saya harap bisa konek ke Malang. Kalau ke Malang, saya rasa mereka (wisatawan) bisa tiga hari dan seterusnya di Jawa Timur. Jadi Malang Raya ini penyangga BTS dan Selingkar Wilis," ujarnya.

Mengenai rencana pembangunan skytrain ini Sanusi Bupati Malang yang baru dilantik hari ini mengaku sudah menyiapkan dukungan. Salah satunya, dengan menyiapkan Terminal Agro sebagai stasiun kereta layang.

Pemkab Malang, kata Sanusi, sudah menyiapkan Terminal Agro di Desa Jeru, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Lahan seluas 20 hektare sudah siap digunakan.

"Itu nanti juga bisa menjadi stasiun skytrain yang rencananya sampai ke Simpang Jemplang menuju Bromo di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo. Kami sudah siapkan lahan 20 hektare," ujarnya.

Namun, dia mengatakan, belum ada rencana biaya yang disiapkan Pemkab Malang. Karena menurut Sanusi, proyek pembangunan cable car maupun skytrain itu akan dikerjakan Badan Otoritas Pariwisata Bromo-Tengger-Semeru.

"Kami hanya menyiapkan dukungan yang menjadi kebutuhan, karena itu nanti akan dikerjakan oleh investor. Investasi belum kami tentukan. Kalau program BOP itu semua dibiayai negara," katanya.(den/bas/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.