KELANA KOTA

Tur Si Jago Merah, Retrospeksi de Brandweer di Surabaya

Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 20 September 2019 | 15:55 WIB
Masyarakat mengikuti tur tematik Si jago Merah melihat dari dekat sejarah Dinas Pemadam Kebakaran di Surabaya. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Tur tematik Si Jago Merah digelar Surabaya Herritage Track (SHT) selama September sampai Oktober, menelisik sejarah Dinas Pemadam Kebakaran di Kota Surabaya yang sudah ada sejak zaman Belanda. Kala itu dikenal dengan de Brandweer.

Surabaya sebagai kota dagang di zaman Belanda mewajibkan pemerintahan kala itu harus memiliki dinas yang bekerja mencegah dan memadamkan kebakaran. Aset berharga tentunya dimiliki oleh kota Surabaya di kala itu, dan bahaya kebakaran bisa mengancam.

Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah institusi pemadam kebakaran yang disebut de Brandweer pada 4 September 1810, sekaligus menjadi institusi pemadam kebakaran pertama di Hindia Belanda.

Tanpa markas permanen dan mengandalkan hanya alat pemadam sederhana, pos de Brandweer awalnya ditempatkan di sekitar bangunan-bangunan strategis seperti, pabrik senjata (altellerie constructive winkel) di sekitar Kalisosok, Benteng Lodewijk di pulau Mengare Gresik, rumah sakit militer (Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting) di Jalan Pemuda dan sekitaran Kalimas, Surabaya.



Tur Tematik menelisik sejarah Dinas Pemadam Kebakaran di Kota Surabaya yang sudah ada sejak zaman Belanda. Foto: Istimewa

Setiap pos tersebut dilengkapi dengan alat pompa yang digenjot manual secara bergantian oleh 40 petugas pribumi saat terjadi kebakaran, sebagai satu diantara upaya memadamkan kebakaran yang sedang ditangani.

Sejarah mencatat, modernisasi de Brandweer dirasakan secara signifikan tahun 1906 setelah penetapan Surabaya sebagai Gementee (kotamadya).

Semua keperluan mengenai pembiayaan mulai dari pemindahan markas semi permanen di Pasar Besar ke bangunan permanen di Pasar Turi pada tahun 1927, hingga pembelian peralatan baru dibiayai oleh pemerintah Gementee Surabaya.

Selanjutnya pada masa pendudukan Jepang, de Brandweer diubah menjadi Syoobotai. Tugas Syoobootai tidak hanya menangani kebakaran biasa, namun juga dipersiapkan untuk memadamkan kebakaran akibat serangan udara.

Selain itu, bersama Keibodan (Barisan Pembantu Polisi), Syoobotai juga memberikan pelatihan berupa simulasi pemadaman api akibat serangan udara kepada masyarakat Surabaya untuk berjaga-jaga dari situasi darurat yang kala itu bisa terjadi setiap saat.

Melalui program tur Surabaya Heritage Track (SHT), secara khusus memilih tema: Si Jago Merah digelar mulai Selasa (17/9/2019) sampai dengan Kamis (17/10/2019).

Pada tur ini trackers atau masyarakat berkesempatan melihat, mengetahui tentang sejarah Dinas Pemadam Kebakaran di Jalan Pasar Turi, Surabaya, dengan mengunjungi lokasi tempat Dinas Pemadam Kebakaran.

Sekedar catatan, Dinas Pemadam Kebakaran awalnya berada di kawasan Pasar Besar hingga tahun 1927, kemudian dilakukan pemindahan di Pasar Turi untuk menunjang modernisasi kota Surabaya.

Hingga sekarang gedung yang berada di Pasar Turi tetap tidak bergeser dari fungsinya sebagai garasi juga sebagai Pusat Administrasi Dinas Kebakaran Kota Surabaya.

Widyasti mewakili SHT mengingatkan masyarakat untuk terlebih dahulu memesan tempat sebelum mengikuti tur.

"Langsung datang ke House of Sampoerna, dan mendaftarkan diri untuk mengikuti tur. Sebaiknya memesan tempat terlebih dahulu," kata Widyasti, Jumat (20/9/2019).(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.