KELANA KOTA

Graduation Show 2019 Mahasiswa Ubaya Tampilkan Disenthrall

Laporan J. Totok Sumarno | Sabtu, 21 September 2019 | 22:12 WIB
Satu diantara karya mahasiswa pada Graduation Show 2019 gelaran Universitas Surabaya (Ubaya). Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Graduation Show 2019 bertajuk Disenthrall, Sabtu (21/9/2019) tampilkan 61 model, dan 180 looks Fall Winter 2019 dan Spring Summer 2020 Collection karya mahasiswa Prodi Studi Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya.

Prayogo Widyastoto Waluyo, S.Pd., M.Sn., penanggung jawab Graduation Show 2019 yang juga dosen pengajar mata kuliah Mens Wear Design Project menyampaikan bahwa acara kali ini, tahun ke empat.

Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan Program Studi Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri dan Kreatif di Ubaya. Disamping itu, acara ini menjadi ajang promosi bagi mahasiswa menampilkan karya mereka dihadapan ratusan undangan yang terdiri dari sejumlah pemilik industri di bidang fashion, komunitas, designer dan influencer fashion.

"Tahun ini kami mengusung tema: Disenthrall yang memiliki arti pembebasan. Pembebasan berarti bebas bergaya, ekspresif dan dinamis. Busana yang dibuat oleh mahasiswa yaitu ready to wear yang terbagi menjadi dua tema kecil yaitu 60 looks Flawful untuk tren fashion Fall Winter 2019 dan 80 looks The Games untuk tren fashion Spring Summer 2020," terang Prayogo.


Ratusan looks yang disuguhkan merupakan hasil karya serta kreativitas dari 28 mahasiswa yang mewajibkan masing-masing membuat lima rancangan busana dan lima belas produk lifestyle mulai dari aksesories kepala hingga sepatu yang dikenakan.

Desain pakaian yang dirancang oleh mahasiswa dibuat lebih youthful dengan target market untuk anak muda yang aktif dan energik.

Nia Krisanti, S.Ds., satu diantara desainer membuat koleksi bernama Human Being, yang dituangkandalam lima karya, dengan dominasi warna putih terinspirasi dari penderita Oculocutaneous Albinism (Albino) yang mengalami kekurangan warna pigmen. Nia menuturkan bahwa desainnya masuk dalam tema Flawful kategori Fall Winter 2019 Collection.

"Nama koleksinya Human Being yang berarti manusia. Karya ini memanusiakan manusia. Melalui tema Flawful yang berarti tidak sempurna, cacat, dan memiliki kekurangan, akhirnya saya terinspirasi dari penderita Albino. Sebetulnya penderita Albino sama seperti manusia yang lain dan bebas bergaya, mereka memiliki perbedaan warna kulit yang unik. Hal itu yang membuat daya tarik tersendiri sehingga saya membuat looks yang juga dapat digunakan oleh penderita Albino," terang gadis berusia 22 tahun ini.

Gadis yang gemar travelling ini mengambil desain busana lengan panjang dan menggunakan material berbahan fleece yang cocok digunakan untuk musim dingin dan berangin.

Namun, desain ini dapat dipakai oleh masyarakat lokal karena dirancang dengan menyesuaikan iklim yang ada di Indonesia. Selama proses perancangan desain selama satu setengah bulan, Nia memfokuskan pada warna dan bentuk iris mata penderita Oculocutaneous Albinism yang menjadi ciri khas motif koleksinya.

Sedangkan Nancy Restiandini,menunjukkan koleksi miliknya berjudul Sentoki yang diambil dari bahasa Jepang berarti pejuang atau fighter. Gadis yang saat ini menekuni profesi Make Up Artist (MUA) menuturkan bahwa looks yang dirancang terinspirasi dari para pemain Baseball Hokkaido di Jepang.

Kesulitan yang dialami oleh gadis yang gemar mendengar musik pop ini, ada pada pemilihan kain yang tidak ada di Indonesia serta teknik tali yang dibuat sendiri sehingga menjadi motif yang sesuai dengan tema dan tren fashion dunia. Desain pakaian Nancy termasuk dalam tema The Games kategori Spring Summer 2020 Collection.

"Keunikannya ada pada material bahan kain yang saya pesan langsung dari Cina dan desainnya saya buat agak menggelembung mirip seperti bola Baseball. Begitu juga aksesories tas yang digunakan. Busana ini mempunyai ciri khas desain pakaian yaitu menggunakan leather strap sehingga memberikan kesan lebih sporty," kata Nancy.

Selain menampilkan karya tugas akhir mahasiswa, terdapat 40 desain karya lainnya dibuat oleh mahasiswa FIK Ubaya yang tergabung dalam mata kuliah Local Content Design Project dan Evening Gown Design Project.

Tidak hanya menampilkan karya, mahasiswa tingkat akhir juga bertugas menjadi panitia dalam pelaksanaan acara sehingga pengalaman yang didapat menjadi bekal untuk menyelenggarakan fashion show sendiri.

"Semoga dari acara ini, eksistensi mahasiswa kedepannya bisa meningkat di dunia industri dan fashion. Sekaligus menjadi salah satu langkah awal karir mahasiswa di dunia industri fashion jika karya mereka bisa dibeli oleh para pengunjung atau tamu undangan yang hadir," pungkas Prayogo.(tok)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.