KELANA KOTA

Kenali Gejala Kanker Kolorektal Sebelum Terlambat

Laporan Agung Hari Baskoro | Rabu, 09 Oktober 2019 | 14:45 WIB
dr. Luciana pada peresmian klinik bedah digestif dan klinik bedah onkologi di RS Adi Husada Undaan Wetan, Surabaya pada Rabu (9/10/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Kanker kolorektal atau kanker usus besar memiliki beberapa gejala yang bisa diwaspadai oleh masyarakat.

dr. Luciana Wardoyo, Sp.B-KBD Dokter Bedah Digestif di RS Adi Husada Undaan Wetan mengatakan, setidaknya ada tiga gejala yang bisa dicek sendiri oleh masyarakat.

"Pola BAB. Ada perubahan pola gak. Berak darah. Biasanya digampangkan orang (dikira, red) ambeien. Ambeien, ambeien, diobati, ambeien. Ternyata kanker kolorektal," ujar dr. Luciana pada peresmian klinik bedah digestif dan klinik bedah onkologi di RS Adi Husada Undaan Wetan, Surabaya pada Rabu (9/10/2019).

Selain pola BAB yang bisa diamati langsung, penderita kanker usus besar biasanya juga mengalami penurunan berat badan dan nafsu makan yang berkurang. Hal ini perlu diwaspadai juga sebagai gejala kanker usus besar.


Selain tiga gejala tersebut, seseorang yang memiliki keturunan dengan riwayat penyakit kanker perlu waspada. Sebab, 20 persen penderita kanker ini berasal dari faktor keturunan.

"Kalau sudah mengetahui, sebaiknya memang pasien datang ke rumah sakit untuk periksa. Periksa, kita periksa bertahap. tidak ujug-ujug (tiba-tiba, red) operasi. Karena biasanya, orang ngerasa berak darah, terus diberi obat, ternyata gak sembuh. setelah berbulan-bulan, ternyata kanker," jelasnya.

Ia mengklaim, di Indonesia penderita kanker baru masuk rumah sakit ketika sudah masuk stadium tiga bahkan empat.

"Semua kanker itu vatal akibatnya jika tidak terdeteksi dini. Karena pasien merasa tidak mau berobat, ketahuannya baru pas stadium akhir. Kalau sudah stadium empat, itu artinya tidak bisa dilakukan apa-apa. kuratif istilahnya," tegasnya.

Ia juga menjelaskan, jika pasien penderita kanker masuk rumah sakit ketika masih berada di stadium awal, maka yang bersangkutan memiliki five years survival rate tinggi.

"Dengan ada screening, edukasi, pasien mungkin dia datang di staium awal. Dia masih punya five years survival rate atau lima tahun ketahanan hidup. Ini standar hitungan di internasional untuk kanker. Kalau dia di staidum awal, bisa lebih 90 persen (kemungkinannya, red). Artinya lima tahun kedepan, pasien itu masih hidup, bebas kanker. Tapi dia harus follow up terus biar tidak kambuh," pungkasnya. (bas/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 1
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.