KELANA KOTA

Kapolda Jatim Minta Petani Garam Waspadai Hoaks

Laporan Dwi Yuli Handayani | Kamis, 10 Oktober 2019 | 09:21 WIB
Kapolda Jatim saat "cangkrukan" Forkopimda Jatim bersama petani garam di salah satu hotel di Sidoarjo, Rabu (9/10/2019). Foto: Antara
suarasurabaya.net - Irjen Pol Luki Hermawan Kapolda Jatim meminta kepada petani garam di provinsi setempat supaya tetap mewaspadai informasi bohong atau hoaks yang saat ini marak beredar di media sosial.

"Sampai sekarang pesta demokrasi Jatim aman dan kondusif, masyarakat bisa laksanakan aktivitasnya dengan aman dan nyaman," katanya saat kegiatan "cangkrukan" Forkopimda Jatim bersama petani garam Jatim di Sidoarjo, Rabu (9/10/2019) malam.

Kapolda sengaja mengumpulkan petani garam karena garam merupakan kebutuhan utama saat warga memasak, sehingga keberadaan petani itu dibutuhkan.

"Kami berterima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah atas kegiatan ini. Tujuannya kami memberikan rasa aman, Jatim barometer Indonesia, perputaran ekonomi Jatim," katanya, seperti dilansir Antara.


Ia berpesan jika mereka ada mendapat pesan yang beredar di grup Whatshap sebaiknya dicek dahulu kebenarannya supaya tidak "termakan" hoaks.

"Cek kebenaran, jangan sampai 'termakan' hoaks, banyak tidak paham serangan media sosial, karena seluruh masyarakat Indonesia pegang alat komunikasi," katanya.

Oleh karena itu, Kapolda meminta masyarakat bersama-sama memerangi hoaks dengan menyampaikan berita sesuai fakta dan tidak mudah berbagi kabar yang belum jelas kebenarannya ke temannya.

"Kami akan terus berupaya supaya Jawa Timur ini tetap aman dan nyaman sehingga masyarakat bisa beraktivitas seperti biasa tanpa adanya gangguan yang cukup berarti," katanya.

Hadir dalam kegiatan "cangkrukan" itu, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur, Kapolres di wilayah Jatim, dan petani garam. (ant/dwi)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.