KELANA KOTA

Pemkot Surabaya Masih Mampu Tangani Sendiri Semburan Lumpur Kutisari

Laporan Denza Perdana | Kamis, 10 Oktober 2019 | 15:25 WIB
Petugas memeriksa semburan lumpur tiba-tiba muncul di halaman rumah dinas PT. Classic Prima Carpet Industries di Jl. Kutisari Indah Utara III, Surabaya, Senin (23/9/2019). Foto: Abidin/Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Eko Agus Supiadi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya mengatakan, Pemkot Surabaya masih mampu menangani sendiri semburan lumpur di Kutisari, Surabaya.

Dia mengatakan, surat permintaan dari Dinas ESDM Jatim agar Risma menetapkan status darurat bencana hanya syarat administrasi saja.

"Itu, kan, supaya bisa didanai Provinsi. Saya kira tidak usah. Kami tangani sendiri dulu," ujar Agus kepada suarasurabaya.net, Kamis (10/10/2019).

Pantauan di pekarangan rumah kompleks Kutisari Indah Utara III/19, Kamis pagi, sejumlah petugas Linmas dan Satgas pematusan bersiaga di lokasi.


Lumpur masih mengalir cukup deras. Di dekat lokasi semburan, ada sebuah tandon penuh air kecokelatan. Sementara puluhan drum di lokasi juga terlihat penuh.

Para petugas Linmas mengatakan, mereka menunggu suplai drum baru untuk memindahkan lumpur bercampur minyak dan gas dari tandon sementara.

Agus mengatakan, Pemkot Surabaya hari ini memasang alat separator di lokasi semburan lumpur. Alat itu mampu memisahkan minyak dan gas dengan air.

Alat separator itu, kata Agus, dibuat sendiri oleh Dinas Cipta Karya Surabaya atas arahan dari DLH Surabaya dan Ikatan Ahli Geologi.

Agus menegaskan, status darurat bencana untuk semburan lumpur di Kutisari itu belum diperlukan. Karena menurutnya, semburan itu belum terlalu mengkhawatirkan.

"Saya kira kecil, ya. Itu, kan, sekarang lebih banyak airnya. Nanti kita treatment. Minyak dipisah sendiri, airnya sendiri. Air itu langsung dibuang ke selokan," katanya.

Agus mengatakan, semburan lumpur bercampur minyak, gas, dan air tidak terlalu berbahaya bagi warga dan lingkungan sekitar. Dia mengimbau masyarakat tidak usah panik.

"Enggak terlalu berbahaya. Itu karena di lokasi itu dulu memang kilang minyak Belanda. Tidak perlu khawatir berlebihan. Aktivitas seperti biasa saja," ujarnya.

Agus memastikan, DLH Surabaya bersama Linmas dan organisasi perangkat daerah lain di Surabaya terus memantau perkembangan semburan lumpur itu 24 jam.

Sebelumnya, Setiajit Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur mengirimkan surat resmi ke Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya.

Isinya, meminta wali kota agar segera mengeluarkan pernyataan darurat atas semburan lumpur Kutisari supaya Pemprov Jatim bisa mengeluarkan bantuan.

Pemprov Jatim melalui BPBD Jatim sudah menyiapkan skema pembuatan separator. Alat pemisah air, minyak, dan gas, dengan anggaran mencapai Rp150 juta.(den/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.