KELANA KOTA

Asal Mula Terungkapnya Geng Remaja dan Anak-anak di Surabaya

Laporan Agustina Suminar | Selasa, 15 Oktober 2019 | 12:00 WIB
Polisi kembali mengamankan 17 anak yang tergabung dalam Geng All Star, di Taman Mundu, Surabaya, Minggu (13/10/2019) dini hari. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Warga Surabaya tiba-tiba dihebohkan dengan berita dua geng, dan tertangkapnya 17 orang anak yang tergabung dalam geng All Star di Taman Mundu, Surabaya, Minggu (13/10/2019) lalu. Geng ini diduga akan melakukan penyerangan (tawuran) terhadap geng Jawara di kawasan Simo Pomahan. Bahkan, geng yang beranggotakan anak-anak usia SD hingga SMP ini, sebelumnya terbukti melakukan penggalangan dana untuk membeli bahan baku senjata tajam.

AKBP Sudamiran Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya memaparkan kepada Radio Suara Surabaya, tentang awal mula geng tersebut dapat diringkus.

Menurutnya, kejadian bermula pada 20 September yang lalu, polisi mendapatkan laporan adanya anak hilang. Setelah ditelusuri, terdapat video yang diunggah di facebook, yang menunjukkan anak tersebut disekap dan dianiaya oleh beberapa orang hingga mengalami luka berat. Lalu pada tanggal 22 September, polisi dapat mengidenifikasi lokasi korban yang saat itu berada di kawasan Menganti, Gresik.

"TKP awal di SMPN 5 Surabaya, (korban,red) dijemput disitu, lalu berpindah-pindah. Dibawa ke Krembangan, Simo dan terakhir di Menganti. Ternyata ada 2 geng di Surabaya, geng Kampung Jawara dan All Star," kata Sudamiran, Selasa (15/10/2019).


Ia menjelaskan, korban pengeroyokan adalah anggota dari geng All Star. Pengeroyokan sendiri dilakukan karena anggota dari geng Jawara kehilangan motor, dan mereka menduga pelaku pencurian motor tersebut dilakukan oleh anggota geng All Star. Ternyata informasi tersebut salah.

Setelah mengetahui anggota gengnya dikeroyok oleh geng Jawara, akhirnya anggota geng All Star yang lain berniat untuk menuntut balas dengan melakukan penyerangan dan berkumpul di Taman Mundhu Surabaya, Minggu (13/10/2019) lalu. Sebelum melakukan penyerangan, anggota geng All Star bahkan telah melakukan penggalangan dana untuk membeli plat besi dan baja, yang nantinya akan dijadikan senjata tajam.

"Berdasarkan hasil penyelidikan, geng All Star ini tidak tahu apa-apa (kasus kehilangan motor geng Jawara). Terus tahu ada yang dikeroyok, berbuntut aksi balas dendam," ujarnya.

Beruntungnya, aksi mereka dapat dicegah oleh Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya. Dari ke-17 anggota geng yang diamankan, 15 diantaranya laki-laki dan 2 sisanya perempuan.

Ribuan Anggota

Setelah ditelusuri oleh Tim Cyber Polrestabes Surabaya, ditemukan geng tersebut terkoordinir melalui grub Whatsapp. Dari geng All Star sendiri, ditemukan ada 61 grub WA. Setiap grub memiliki jumlah anggota yang bervariasi. Diperkirakan, total dari anggota geng All Star ini berjumlah ribuan anggota mulai dari remaja hingga anak-anak.

Tidak hanya dari Surabaya, anggota geng juga berasal dari luar kota seperti Lumajang dan Jakarta meski jumlahnya tidak banyak.

"Hasil penyelidikan kami, geng All Star ada 61 grub Whatsapp. Masing-masing grub pesertanya variasi, ada 150, ada yang sampai 250 anggota, dari total dari 61 grub itu udah ribuan (anggota)," papar Sudamiran.

Sedangkan untuk anggota geng Jawara memiliki anggota yang lebih sedikit, yakni hanya 1 grub Whatsapp yang berisi 200an anggota.

Saat diintrogasi, banyak anggota geng yang tidak tahu menahu tentang apa tujuan dibentuknya geng dan siapa yang akan 'diserang' dalam aksi tawuran Minggu lalu.

"Beberapa anak yang kita tanyai mengaku tidak tahu, 'siapa yang kamu serang?' mereka tidak tahu, cuma ikut-ikutan. Karena anggotanya ribuan, kadang kalau pas ketemuan ada yang tidak kenal juga," ujarnya.

Perlu Perhatian Pemerintah dan Masyarakat

Menurut AKBP Sudamiran, terkuaknya kasus ini juga berawal dari temuan Polres Tanjung Perak. Minggu (1/9/2019) dini hari 30 remaja ditangkap saat berkerumun di Jl Demak (depan makam Mbah Ratu) sekitar pukul 00.00 WIB. Polisi juga mengamankan puluhan senjata tajam beraneka jenis. Mereka siap melakukan aksi tawuran.

Karena itu Sudamiran mengatakan perlu perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat, karena geng tersebut sudah menjurus ke kelompok kekerasan terhadap anak-anak.

Beberapa waktu lalu, Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya mengumpulkan sebanyak 65 anggota dari kedua geng, baik geng Jawara maupun geng All Star. Puluhan anggota yang berstatus pelajar tersebut dikumpulkan di Gedung Siola, Surabaya, Kamis (10/10/2019).

Dalam pertemuan tersebut, Risma Wali Kota berusaha mendamaikan kedua geng tersebut. Ditemani Kombes Pol Sandi Nugroho Kapolrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran Kasat Reskrim dan sejumlah pejabat TNI serta para pejabat Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Risma menyadarkan bahwa anak-anak jangan sampai terprovokasi oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Jadi anak-anakku, sekarang kalian tahu to? Sebenarnya kalian nggak ngapa-ngapain kan? kalian tidak punya musuh kan? Jadi jangan mau dipengaruhi oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan kalian dipaksa-paksa. Kalian harus punya sikap. Kalau kalian ditakut-takuti, kalian lapor di aplikasi Jogo Suroboyo atau telpon 112," tegas Risma.

Ia menambahkan, bahwa sebagai "Arek Suroboyo", sudah seharusnya mereka ikut menjaga ketrentraman Surabaya, bukan malah sebaliknya.

"Aku yakin kalian yang ditahan itu tidak tahu apa-apa. Sementara yang ngompor-ngompori kalian sekarang ada di luar. Kalian arek-arek Suroboyo, kalian boleh jadi Bonek, tapi jangan jadi geng yang mengganggu ketentraman warga. Paham ya!," kata Risma yang disambut jawaban "paham" dari puluhan anak-anak tersebut.

Menurut AKBP Sudamiran, sejak pertemuan dengan Wali Kota, beberapa aggota sudah banyak yang keluar dari geng. Namun juga masih ada yang tetap bertahan.

"Ditanggapi bermacam-macam, ada yang langsung "tiarap", ada yang masih ngotot balas dendam. Banyak yang udah keluar, ada yang masih cooling down, dan ada yang ganti grup," ujarnya.

Setelah terkuaknya kasus tersebut, ia berharap pergaulan anak-anak mendapat lebih banyak perhatian dari orang tua dan guru di sekolah. Begitu juga dari pemerintah kota dan pihak kepolisian, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi, dan anak-anak merasa aman dalam bergaul di lingkungan sekolah maupun lingkungan bermain.(tin/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.