KELANA KOTA

Museum Pendidikan Berisi Ratusan Benda Bersejarah, Siap Diresmikan

Laporan Dwi Yuli Handayani | Rabu, 16 Oktober 2019 | 19:48 WIB
Museum Pendidikan yang berada di Jalan Genteng, Surabaya. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Pemerintah Kota Surabaya terus mempersiapkan pembukaan Museum Pendidikan yang berada di Jalan Genteng, Surabaya. Museum tersebut ditargetkan akan diresmikan pada November 2019 mendatang.

Antiek Sugiharti Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya memastikan eks Taman Siswa yang dipersiapkan untuk menjadi Museum Pendidikan itu masih terus diperbaiki. Bahkan, setiap hari Antiek mengaku terus memantau progress perbaikan gedung tersebut.

"Saya dan kawan-kawan Dinas Cipta Karya memantau setiap hari, target saya tanggal 22-24 Oktober ini, saya sudah bisa memasukkan semua koleksi untuk dipindahkan ke sana," kata Antiek ditemui di ruang kerjanya, Rabu (16/10/2019), seperti dalam rilis yang diterima suarasurabaya.net.

Menurut Antiek, pihaknya terus menyiapkan segala keperluan sebelum museum itu resmi dibuka. Salah satu yang dipersiapkan adalah penyusunan narasi untuk barang bersejarah sesuai dengan historinya masing-masing.


Kata Antiek, museum tersebut akan diisi kurang lebih 800 barang bersejarah lintas masa, mulai dari masa pendidikan pra sejarah sampai pendidikan masa kini.

"Nanti akan diisi oleh sekitar 800 koleksi, penataannya kami bikin storyline dan ditata sesuai kategori, ada tekniknya, teman-teman tim museum yang ahli itu. Kita bikinkan mulai pendidikan pra sejarah, zaman kerajaan, hingga pendidikan masa kini. Rencananya, bulan depan (November) diresmikan," ujarnya.

Antiek menjelaskan barang-barang itu nantinya akan dipajang berdasarkan klasifikasi di setiap periode perkembangan pendidikan. Menariknya, mulai dari koleksi pra aksara dimana masyarakatnya belum mengenal tulisan, sampai bagaimana orang tua mengajarkan pendidikan kepada anak-anaknya zaman itu lengkap.

"Jadi, bagaimana pada waktu itu orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya juga sudah ada," katanya.

Tidak hanya itu, Antiek memperinci aneka ragam koleksian yang berhasil dikumpulkan. Diantaranya pendidikan pada masa kerajaan, mulai dari pengenalan sejarah pendidikan masa klasik, mengenalkan huruf jawa "honocoroko" kemudian sebuah padepokan pendidikan berbasis agama dan pendidikan di masa kolonial.

"Nah, kolonial ini juga dibagi, ada kolonial zaman Belanda dan Jepang. Jadi, ada beberapa koleksi dokumen yang ada pada saat itu, termasuk alat tulisnya," ujar mantan Kepala Dinas Kominfo itu.

Selain itu, koleksi masa perjuangan Ki Hajar Dewantara pahlawan sekaligus Bapak pendidikan Indonesia juga sudah siap dipamerkan. Bahkan, di museum itu, ada juga infografis yang menceritakan perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam meperjuangkan pendidikan di Indonesia.

"Lalu benda bersejarah lainnya seperti meja kelas yang ada lubang tintanya, papan tulis kaki, dan bangku. Kami juga mencoba merekonstruksikan tentang pendidikan propaganda Jepang," imbuhnya.

Uniknya lagi, di museum itu akan ada peragaan suasana kelas tempo dulu. Bahkan, nanti juga akan menampilkan alat pendukungnya, seperti buku kurikulum SD–SMA, lampu teplok, lampu tromak, ublik, lilin, dan sarana papan tulis. "Termasuk properti gurunya, kita juga cari topi guru sampai sepeda guru zaman dahulu, kita juga carikan," kata dia.

Antiek menambahkan, di museum Pendidikan itu nantinya akan ada kurikulum tahun 1970 an. Dimana dalam kurikulum itu, juga dibangunkan sebuah monument yang merupakan gambaran dari salah satu kurikulum yang digunakan untuk melatih membaca anak-anak.

"Mengeja kata demi kata seperti ini Budi, Budi bermain bola. Dari ini Budi itu tadi maka kami buatkan juga monumen yang bisa dipakai untuk pembelajaran," ungkapnya.

Selain itu, ada pula dokumen-dokumen bersejarah lainnya seperti manuskrip kuno, lontar, huruf jawa, selebaran tulisan hiragana. "Semua itu Insyallah sudah siap. Kami juga ada rapot-rapot lama," ujarnya.

Antiek mengaku, semua benda-benda itu berhasil dikumpulkan dari berbagai pihak. Dari komunitas, lembaga lain dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Di samping itu, ia memastikan di tempat itu akan disediakan ruang interaktif bagi setiap pengunjung.

"Setelah kami dapatkan barang itu lalu sudah dikurasi juga oleh kami. Saat ini posisinya disimpan untuk penyiapan penatan di museum. Jadi itu nanti kita bikin statis dan juga dinamis. Mereka bakal belajar menulis di zaman dulu dengan media yang berbeda," pungkasnya. (dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.