KELANA KOTA

Indonesia Masih Minim Profesor, Sejumlah Kampus Lakukan Program Percepatan

Laporan Agung Hari Baskoro | Jumat, 18 Oktober 2019 | 18:24 WIB
Ilustrasi. Universitas Airlangga (Unair) mengukuhkan tiga guru besar dari berbagai bidang keahlian di Aula Garuda Mukti Unair, Surabaya pada Sabtu (26/1/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Indonesia hanya memiliki 5.389 profesor dari total 4.590 perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia. Kurangnya jumlah profesor ini membuat beberapa perguruan tinggi mengusahakan percepatan profesor melalui beberapa cara. Salah satunya ITS dan Unair.

Ahmad Rusdiansyah Wakil Rektor 3 ITS mengatakan, percepatan profesor menjadi salah satu program yang diperhatikan di bawah kepemimpinan Mohammad Ashari Rektor ITS.

"Kita sedang berusaha untuk mempercepat proses kenaikan pangkat jabatan fungsional. Saat ini, ITS sedang melakukan proses percepatan dengan melakukan beberapa perubahan. Yang dilakukan adalah terkait administrasi. Proses. Misalnya review publikasi itu dimudahkan dengan adanya sistem informasi kepangkatan. Sehingga proses review-nya itu lebih mudah," ujar Ahmad Rusdiansyah pada Jumat (18/10/2019).

Ia juga menambahkan, selain melakukan perombakan administrasi, ITS juga melakukan pengarahan kepada para dosen dengan pangkat Lektor Kepala terkait proses kenaikan pangkat profesor.


"Kemudian bukan hanya itu. Kami juga lakukan jemput bola. Beberapa yang Lektor Kepala tadi, yang punya eligibility kami undang di sebuah pertemuan. Kami beri semacam pengarahan yang harusnya dilakukan untuk sebuah proses kenaikan pangkat," jelasnya.

Ia melihat, proses pengurusan persyaratan profesor yang dianggap susah menjadi salah satu penyebab minimnya jumlah profesor di Indonesia. Melalui perombakan administrasi dan perubahan mindset dosen ITS, diharapkan makin banyak profesor lahir di kampus ini.

Ia membeberkan, sejak dilantiknya Rektor baru pada April 2019 lalu, sudah ada empat rektor baru di ITS, meskipun belum resmi dikukuhkan. Keempat profesor baru itu masing-masing dari prodi kimia, araitek, matematika, dan informatika.

Jumlah profesor di ITS secara keseluruhan berjumlah 95 profesor atau sebanyak 9,1 persen dari total keseluruhan dosen yang ada. Ia menargetkan, melalui program percepatan rektor, pada 2025 mendatang, jumlah ini meningkat menjadi 10 persen.

Di sisi lain, Prof. Mohammad Nasih Rektor Unair juga menyatakan sedang melakukan proses percepatan profesor di kampusnya. Saat ini, ia mengaku jumlah profesor Unair berada di angka 11-12 persen dari jumlah dosen yang ada atau sekitar 200-300an profesor. Ia sedang menargetkan, jumlah tersebut naik di angka 20 persen.

"Target kita bisa sampai 20 persen. Kemudian jumlah doktor kita juga agak-agak kurang. Ini kita genjot terus. Kita sudah mengeluarkan beasiswa rektor untuk mereka-mereka yang mau kuliah beasiswa S3 dan lain-lain. Ini juga kita dorong terus menerus," katanya pada Jumat (18/10/2019).

"Memang untuk yang di dua aspek, profesor dan doktor itu, kita tidak bisa tinggal balik tangan. Kita perlu lima tahun paling gak. Jadi kalau dua tahun ini kita mulai, kita baru akan memetiknya tiga tahun ke depan. Untuk doktor dan profesor. Kita dorong semua dosen untuk banyak lakukan riset, banyak publikasi, sehingga percepatan profesornya juga akan bagus. Dan Alhamdullilah tahun ini kita dapat cukup banyak," lanjutnya.

Menurutnya, tantangan yang harus dihadapi untuk menambah jumlah profesor adalah mengenai fokus dosen yang baginya lebih banyak ke arah pengajaran. Saat ini, rektor Unair itu sedang berusaha untuk mendorong para dosen untuk juga melakukan penelitian yang menjadi prasyarat menjadi profesor.

"Ketika kita dorong untuk meneliti dan lain-lain untuk pemenuhan persyaratan jaid profesor, masih agak kehilangan waktu. Waktunya habis untuk ngajar. intinya itu. Sekarang kita berikan slot untuk bisa punya kegiatan lain. Termasuk meneliti. Untuk neliti yang baik, saya yakin kesempatan jadi profesor akan lebih besar lagi," pungkasnya. (bas/tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.