KELANA KOTA

Ketua MUI Jatim: Seruan Tentang Salam Lintas Agama Itu Tausiah Bukan Fatwa

Laporan Denza Perdana | Senin, 11 November 2019 | 14:56 WIB
KH Abdusshomad Buchori Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Foto: YouTube
suarasurabaya.net - KH Abdusshomad Buchori Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menegaskan, seruan tentang salam lintas agama dalam membuka pidato sambutan berbagai acara adalah hasil tausiah, bukan fatwa.

"Anda perlu baca seluruh pokok pikiran dalam tausiah itu. Ada delapan poin. Saya sudah banyak dimintai statemen media. Perlu dipahami, itu adalah tausiah, bukan fatwa," ujarnya, Senin (11/11/2019).

Tausiah MUI Jatim itu sudah disampaikan dalam bentuk tertulis tertanggal 8 November 2019 dan sudah bisa diakses di website MUI Jatim. Tausiah itu, kata dia merujuk pada rekomendasi Rakernas MUI.

"Kami sampaikan tausiah itu berdasarkan rekomendasi Rakernas MUI 11 sampai 13 Oktober 2019 di Nusa Tenggara Barat. Kami sampaikan seruan ini karena salam itu doa, dan doa itu ibadah," katanya.


MUI Jatim menganggap, menyampaikan salam saat membuka pidato dengan menggabungkan berbagai salam lintas agama itu sama halnya dengan mencampur adukkan agama.

"Karena agama itu pada dasarnya eksklusif. Keyakinan itu sistem. Agama itu sistem keyakinan yang punya sistem ibadah sendiri-sendiri. Kaitan dengan toleransi, kami setuju dengan perbedaan," ujarnya.

Abdusshomad mengatakan, MUI Jatim sepakat dengan toleransi beragama, yang mana dalam menyikapi perbedaan yang ada perlu ada sikap saling menghormati dan menghargai.

"Tidak berarti mengucap salam menyebut semua (salam lintas agama) wujud kerukunan. Bukan. Itu merusak ajaran agama tertentu. Toleransi itu saling menghargai, menghormati, setuju dengan perbedaan," ujarnya.

Dia akui, di Indonesia yang berlandaskan Pancasila, semua agama boleh hidup dan saling berhubungan. Tapi menurutnya, ibadah tidak bisa dicampur aduk. Karena salam itu doa dan doa itu ibadah.

Dia contohkan wujud kerukunan umat beragama. Misalnya dalam kondisi bencana banjir, setiap orang harus tolong-menolong tidak usah tanya agama. Ada orang terlibat kecelakaan, kita menolongnya tanpa menanyakan agamanya.

MUI menyampaikan tausiah ini, kata dia, dalam rangka meluruskan pemahaman yang salah demi mendukung pembangunan bangsa. Kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.(den/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.