KELANA KOTA

Imbauan MUI Soal Salam Lintas Agama, PWNU: Kami Tidak Melarang, Juga Tidak Menganjurkan

Laporan Anggi Widya Permani | Selasa, 12 November 2019 | 17:40 WIB
PWNU Jatim menggelar jumpa pers setelah mengkaji imbauan MUI untuk tidak mengucapkan salam lintas agama, Selasa (12/11/2019). Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim mengkaji imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk tidak mengucapkan salam lintas agama. Imbauan ini ditujukan untuk umat Islam khususnya pejabat muslim, yang kerap melakukannya di acara resmi.

KH Syafruddin Syarif Katib Syuriah PWNU Jatim menyampaikan hasil kajiannya kepada awak media, Selasa (12/11/2019). Dalam hal ini, PWNU Jatim tidak melarang dan juga tidak menganjurkan pengucapan salam lintas agama.

Pejabat muslim, lanjut dia, dianjurkan untuk mengucapkan salam dalam agama Islam atau diikuti dengan salam nasional. Kendati demikian, pejabat muslim juga boleh mengucapkan salam lintas agama dalam kondisi dan situasi tertentu.

"Pejabat Muslim dianjurkan mengucapkan salam dengan kalimat Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh atau diikuti dengan ucapan salam nasional. Seperti selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua. Dalam kondisi dan situasi tertentu demi menjaga persatuan bangsa dan menghindari perpecahan, pejabat muslim juga diperbolehkan menambahkan salam lintas agama," kata Kiai Syafruddin.


Pendapat ini, kata dia, memiliki referensi yang cukup panjang dan banyak sekali. Seperti kitab Bariqotul Mahmudiyyah dan Asybah Wannadhoir. Bukan hanya dibahas menggunakan akal, tapi juga berdasarkan pendapat-pendapat ulama terdahulu.

Kiai Syafruddin juga menjelaskan, Islam sebagai agama kerahmatan yang selalu menebarkan pesan perdamaian dalam wujud salam verbal, yang sejatinya sudah menjadi tradisi agama tauhid sejak Nabi Adam AS dan diwarisi hingga sekarang.

"Nabi Ibrahim AS juga menyampaikan salam kepada ayahnya yang masih belum bertauhid. Nabi Muhammad SAW juga pernah mengucapkan salam terhadap penyembah berhala dan golongan Yahudi, yang berkumpul dengan kaum muslimin. Demikian pula generasi sahabat dan tabi'in setelahnya," kata dia.

Dengan demikian, lanjut dia, menjadi sangat wajar tradisi menebarkan salam sebagai pesan kedamaian. Itu juga menjadi tradisi universal manusia lintas adat budaya dan agama dengan berbagai model, cara, dan dinamika zamannya.

"Kami tidak meng-counter imbauan MUI Jatim. Tapi PWNU Jatim mengadakan kajian secara fiqih dan itulah jawaban kami. Jadi kalau ada maslahat (faedah, red), kemudian ada hajat untuk mengucapkan salam lintas agama bagi kami tidak melarang dan tidak menyuruh. Hanya, kalau tidak ada hal yang diperlukan sebaiknya tidak usah salam lintas agama. Tapi kalau ada maslahat, ya silahkan," pungkasnya. (ang/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.