KELANA KOTA

Bupati Sidoarjo Tawarkan Pelet Kayu dari Pabriknya untuk Gantikan Sampah Plastik di Pabrik Tahu

Laporan Denza Perdana | Selasa, 19 November 2019 | 15:40 WIB
Saiful Illah Bupati Sidoarjo saat menghadiri Peringatan Hari Pangan Sedunia ke-39 di JX Internasional Surabaya, Selasa (19/11/2019). Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Saiful Illah Bupati Sidoarjo punya solusi bahan pengganti sampah plastik impor untuk bahan bakar pembuatan tahu di 47 pabrik di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo.

Setelah mendengar kabar Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim merespons penelitian IPEN tentang kandungan dioksin dalam telur ayam kampung di Desa Tropodo, Saiful Illah langsung ke lokasi.

"Dari bu Khofifah, ada telur di Malang katanya beracun, makan ampas tahu, tahunya dari Tropodo, Sidoarjo. Saya langsung ke pabriknya. Saya kenal," katanya di Surabaya, Selasa (19/11/2019).

Hari ini, pria yang akrab disapa Abah Ipul itu hadir dalam acara Peringatan Hari Pangan Sedunia ke-39 di JX Internasional Surabaya, yang dibuka oleh Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur.


Abah Ipul mengatakan, ketika dia datangi pabrik tahu di Tropodo, dia tanya apakah sampah plastik yang mereka pakai sebagai bahan bakar pembuatan tahu itu mereka impor?

"Hei, pabrik tahu ini pakai apa bahan bakarnya? Mereka bilang, pakai plastik. Plastiknya dari mana ini? Impor? Tidak (jawab pengusaha tahu) dari Pabrik Pakerin. Jadi memang dari plastik itu," ujar Abah Ipul.

Dia juga mengaku mendapat pengakuan dari para pengusaha itu, ayam-ayam kampung yang lepas liar di sana memang makan dari ampas tahu pabrik tahu itu. "Tapi kok enggak ada (yang keracunan)," katanya.

Abah Ipul mengatakan, ada 47 pabrik tahu di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Krian. Dia mengakui, bahan bakar plastik dalam pembuatan tahu itu memang bukan bahan bakar yang bagus.

"Polusinya ada, asapnya hitam. Dia (pengusaha) juga berusaha bagaimana asapnya tidak hitam. Karena rakyat itu banyak protes. Saya punya pabrik, keluar asap hitam, sudah saya hilangkan. Artinya bisa," ujarnya.

Pabrik yang dia maksud adalah pabrik bahan baku obat nyamuk yang dia miliki, yang tadinya mengeluarkan asap hitam, dengan penyaringan tertentu asap yang dihasilkan sudah tidak hitam.

Dia pun mengatakan, ada solusi yang bisa menggantikan sampah plastik impor sebagai bahan baku pabrik tahu itu. Solusinya adalah pelet kayu (wood pellets). Abah Ipul mengaku, dia juga punya pabriknya.

"Wood Pellets itu harganya murah, yang saya punya itu per tonnya 150 US dollar. Saya punya pabriknya, saya ekspor wood pellets itu ke Korea. Kompornya juga sudah ada," katanya.

Dia akan menawarkan pelet kayu hasil produksi pabriknya itu kepada para pengusaha tahu di Dusun Klagen sebagai salah satu alternatif pengganti sampah plastik selain dengan jaringan gas.

"Ya, banyak nanti, city gas (gas rumah) juga bisa, pakai LPG juga bisa, tapi mahal jatuhnya. Salah satunya, ya, itu, wood pellets. Itu barangnya bagus, panas pasti," katanya kepada wartawan.

Kalau para pengusaha tahu mau, kata dia, realisasinya akan cepat. Karena pabriknya sudah ada. Pabrik milik Bupati sendiri. Kalau dikonversi ke rupiah, harganya pun murah, sekitar Rp2.250 per kilogram.

Sementara itu, dalam waktu dekat ini dia juga akan memberikan penegasan kepada para pengusaha tahu di Tropodo agar tidak lagi menggunakan sampah plastik. "Kalau bisa tidak pakai plastik. Titik," ujarnya.

Namun, dia merasa tidak perlu ada sanksi yang perlu diterapkan kepada para pengusaha tahu itu. Sebab, kalau dikaitkan dengan telur yang tercemar dioksin, kata dia, jumlahnya tidak seberapa.

"Lho sanksinya apa? Telur yang dimakan itu, masa hanya tiga, empat, lima telur saja mengalahkan miliaran telur yang kami produksi di Sidoarjo? Kita tiap hari makan telur. Orang kampung situ makan telur, ya enggak apa-apa. Ya enggak tahu, nanti kita lihat. Saya sudah ambil sampel lagi, ayam yang makan ampas tahu itu. Nanti saya periksakan," katanya.

Selain itu, Abah Ipul juga mengatakan, telur-telur ayam kampung yang menurut penelitian IPEN tercemar dioksin, zat berbahaya bagi kesehatan manusia, tidak diperjualbelikan.

"Di Tropodo itu tidak ada peternakan ayam petelur yang diperjualbelikan. Itu tidak dikomersialkan. Paling ya dikonsumsi sendiri, atau dibeli sama warung-warung itu. Gitu aja," ujarnya.(den/tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 1
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.