KELANA KOTA

Pura-Pura Jadi Korban, Skenario Komplotan Jambret Surabaya Berakhir di Kantor Polisi

Laporan Anggi Widya Permani | Selasa, 19 November 2019 | 16:42 WIB
AKBP Antonius Agus Rahmanto Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak menanyai dua anggota komplotan jambret yang kerap beraksi di wilayah Surabaya. Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Unit Jatanras Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak meringkus komplotan jambret yang kerap beraksi di wilayah Surabaya. Komplotan yang beranggotakan 7 orang ini, diketuai oleh DWR seorang anak yang masih di bawah umur.

AKBP Antonius Agus Rahmanto Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak mengatakan, kejahatan jalanan yang dilakukan DWR ini bukan kali pertama. Dia juga pernah berurusan dengan hukum dan kasus yang sama, saat usianya masih di bawah 17 tahun (residivis).

Untuk aksinya kali ini, lanjut dia, DWR mengajak komplotannya beraksi di Jalan Kalianak Surabaya. Pertama-tama, dia membuat akun Facebook palsu bernama Devina dan memasang foto perempuan. Tujuannya agar korbannya tertarik dan mau diajak ketemuan.

"Setelah membuat akun palsu itu, ada korban laki-laki yang masuk perangkap. Jadi DWR ini yang mengoperasikan akun itu. Dari kenalan, sampai tukeran nomor handphone. Korban mulai tertarik kepada Devina palsu ini, langsung oleh DWR diajak ketemuan di Kalianak," kata Agus di Mapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Selasa (19/11/2019).


Setelah itu, lanjut Agus, korban hendak menemui pemilik akun Devina. Sesampainya di Jalan Kalianak, DWR muncul di hadapan korban dan menyaru sebagai teman Devina. Saat itu, DWR menawarkan diri untuk mengantarkan korban bertemu Devina.

"Korban gak curiga dan mau saja. Pelaku DWR ini dibonceng oleh korban. Mereka naik motor menunju ke lokasi untuk ketemu sama Devina palsu," kata dia.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba korban dihadang oleh 6 orang. Mereka membawa senjata tajam dan mengancam korban agar menyerahkan motor beserta barang berharganya. Sementara DWR berpura-pura tidak kenal dengan 6 orang itu, yang sebenarnya komplotannya sendiri.

Korban pun pasrah dan menyerahkan motornya ke para pelaku. Sedangkan DWR masih memainkan skenarionya, seolah-olah juga menjadi korban atas kejadian itu. Dia berpura-pura iba dan bersedia menemani korban ke kantor polisi untuk menjadi saksi atas kejadian tersebut.

Namun sayangnya, skenario DWR ini justru membuatnya kembali terjerat hukum. Ibarat peribahasa "Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga", kebohongan DWR pun terbongkar di hadapan polisi.

"Dia memainkan skenario itu. Dia berpura-pura jadi korban. Terus ikut menemani korban ke kantor polisi dan dia bersedia jadi saksi. Disitulah terbongkar kebohongan DWR. Saat dilakukan interogasi, ada jawaban yang gak sinkron. Terlebih salah satu petugas kami mengenali DWR. Karena dia dulu kena kasus kejahatan jalanan," kata dia.

"Nah, makin curiga kan. Kami lakukan pendalaman, kita gali keterangan ke DWR. Barulah akhirnya dia mengaku kalau kejadian itu sebenarnya idenya dia. DWR otak utama dari kejahatan jalanan yang di Kalianak," jelasnya.

Selain DWR, polisi mengamankan dua komplotannya yang juga sering menjambret di kawasan Kalianak Surabaya. Polisi masih memburu 4 pelaku lainnya. Agus mengaku, keempatnya sudah teridentifikasi identitasnya dan secepatnya akan diringkus. (ang/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.