KELANA KOTA

Tiga Laboratorium Akan Teliti Kandungan Telur di Desa Bangun Mojokerto

Laporan Agung Hari Baskoro | Selasa, 19 November 2019 | 19:48 WIB
Pada Selasa (19/11/2019) pagi, sejumlah orang dari dinas terkait mendatangi langsung Desa Bangun dan mengambil beberapa sampel telur di desa itu. Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Tiga laboratorium di Indonesia akan meneliti kandungan telur di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Pada Selasa (19/11/2019) pagi, sejumlah orang dari dinas terkait mendatangi langsung Desa Bangun dan mengambil beberapa sampel telur di desa itu.

Tiga laboratorium tersebut yaitu Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta, Balai pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan Bogor, dan Laboratorium Kesehatan Hewan dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur.

Sekitar pukul 10.00 WIB, di Dusun Kalitengah, Desa Bangun, mereka meminta beberapa warga yang memelihara ayam dan bebek, untuk menjual telurnya pada mereka.

Heru Tristiono Perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto yang ikut mendampingi para peneliti dari tiga laboratorium itu mengatakan, hasil penelitian ini nantinya akan menjadi pembanding dari hasil penelitian yang dirilis oleh IPEN, gabungan LSM lingkungan dunia.


"Kalau ngomong tanpa data kan susah ini nanti. Lah ini proses investigasi. Semua apa yang anu coba di anu, ini nanti diinformasikan. Orang yang membuat itu kan, kalau kita ngomong bales ngomong gak ketemu. Mangkanya itu kita bandingkan data," ujarnya saat ditemui di Desa Bangun, Mojokerto pada Selasa (19/11/2019).

Mereka mengumpulkan puluhan telur ayam dan bebek dari beberapa warga. Setelah dikumpulkan, mereka membungkus satu per satu telur itu dengan alumunium foil dan ditandai. Fitri Amalia peneliti dari Balai pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan Bogor mengatakan, penelitian ini akan membutuhkan waktu sekitar 12 hari.

Sebelumnya, IPEN bersama Arnika Association, Nexus3 dan Ecoton menyebut, usaha pemilahan sampah di desa ini mengakibatkan telur ayam di sana terkontaminasi PFOS pada konsentrasi yang setara dengan kawasan industri di Eropa.

Berdasarkan hasil penelitian, mereka mengklaim jika orang dewasa yang mengonsumsi satu telur ayam per minggu dari ayam buras yang dilepas dari kawasan ini akan melebihi batas asupan PFOS mingguan yang ditolerir oleh EFSA sebanyak 1,3 kali lipat.

Suwarno Kepala Dusun Kalitengah, Desa Bangun mengaku heran dan marah mendengar data yang dirilis IPEN. Ia merasa, selama ini tidak ada satu pun lembaga yang melakukan penelitian di desa ini. Beberapa warga juga mengaku hal serupa.

Kepala Dusun itu mengaku, di Desa Bangun tak ada peternak ayam. Hanya ada beberapa warga yang memelihara beberapa ekor ayam dan tidak diliarkan di sekitar lokasi sampah plastik.

"Saya gak mau kalau warga saya diresahkan. Mangkanya sejak dulu, berapa puluh tahun, gak ada keracunan dari sampah dari telur. Gak ada. Saya sebenarnya itu marah. Ada berita keracunan dari telur dari sampah. Saya sandang pangan Desa Bangun, itu dari sampah. Soalnya itu kan ujungnya di Klagen, Tropodo. Nah itu. Kasihan warga saya Pak, semua penghasilan Desa Bangun itu dari sampah," tegasnya. (bas/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.