KELANA KOTA

Warga Desa Bangun Berharap Isu Telur Tak Matikan Mata Pencaharian Mereka

Laporan Agung Hari Baskoro | Rabu, 20 November 2019 | 09:16 WIB
Warga Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto sedang memilah sampah. Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Warga Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto berharap, isu telur terkontaminasi sampah plastik tak mematikan mata pencaharian mereka. Seperti diketahui, mayoritas warga desa itu menggantungkan hidupnya dari sampah plastik impor. Ada yang bekerja sebagai pemulung, pemilah, hingga pengepul.

Siti Maimana Pengepul Sampah di Dusun Kalitengah, Desa Bangun mengatakan, sampah plastik impor sudah menghidupi banyak orang di desa ini. Bahkan, ia mengklaim, dari sampah, banyak orang tua di desa ini berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi sarjana. Beberapa juga menjadi dokter, polisi, tentara, dan profesi-profesi lain.

Ia dulu adalah pemilah sampah. Tapi, sejak tahun 2014 lalu, ia memberanikan diri menyewa sebidang tanah dengan harga sewa Rp 1 juta per tahun. Di tanah itu, ia memulai usaha sebagai pengepul sampah. Ditemui di lokasi, ia kini sudah memperkerjakan empat perempuan sebagai pemilah sampah.

Selain siti, ada banyak orang yang memanfaatkan tanah sewaaan sebagai tempat mengepul sampah. Sisanya, yang tidak punya lahan luas, bisa menjadi pemulung di lahan luas yang dimiliki kepala desa.


"Sampah ini gak ada yang terbuang. Habis dipilah-pilah, yang bagus dijual untuk daur ulang, yang jelek ya buat bahan bakar itu," ujarnya.

Sampah yang ada di lahannya berasal dari banyak pabrik kertas. Khusus dari PT. Pakerin ia mengaku mendapatkannya secara gratis. Sedangan dari pabrik lain, ia membayar dengan harga beragam, mulai Rp.100 ribu-Rp. 500 ribu tergantung kualitas sampahnya.

Dari sampah plastik yang ia dapat dan beli, setelah dipilah, ia bisa menjual kembali sampah tersebut dengan harga Rp. 11.500 per kilogram untuk kualitas bagus. Sedangkan, untuk sampah sisa, ia bisa menjualnya dengan harga Rp. 2500 per kilogram.

Kini, usaha warga Desa Bangun diterpa isu negatif. Sebuah penelitian global yang digagas IPEN bersama Arnika Association, Nexus3 dan Ecoton menyebut, usaha pemilahan sampah di desa ini mengakibatkan telur ayam disana terkontaminasi PFOS pada konsentrasi yang setara dengan kawasan industri di Eropa.

Berdasarkan hasil penelitian, mereka mengklaim jika orang dewasa yang mengonsumsi satu telur ayam per minggu dari ayam buras yang dilepas dari kawasan ini akan melebihi batas asupan PFOS mingguan yang ditolerir oleh EFSA sebanyak 1,3 kali lipat.

Ia tak membayangkan jika sampah plastik impor akhirnya dilarang masuk ke Jawa Timur. Ia mengatakan, jika itu terjadi, perekonomian warga desa akan macet.

"Ya ya opo se mas, kebijakane pemerintah yah, kudune ancen nang kene sandang pangan e (dari sampah, red). Pabrik e yo diolehi lah impor masuk. Masalah e kan gak pabrik Pakerin tok. Lek gak oleh, kan gak onok hasil e. Lek pemerintah gak olehi sampah impor mlebu Jatim, pabrik kertas, lah terus niki (sampah, red) mboten wonten. Ekonomine tiyang mriki nggeh macet cet. Podo karo mateni alon-alon. Haha," pungkasnya. (bas/iss)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.