KELANA KOTA

Soal Industri Tahu Tropodo dan Sampah Plastik Impor, Khofifah: Pemprov kan in Between

Laporan Denza Perdana | Rabu, 20 November 2019 | 10:21 WIB
Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur. Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak punya wewenang mengambil kebijakan soal telur ayam kampung tercemar dioksin di lingkungan pabrik tahu di Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo.

Hasil riset IPEN bersama Ecoton sejak Mei 2019 lalu, hasil laboratorium atas sampel telur ayam kampung dari lingkungan pabrik tahu di Tropodo, Sidoarjo, menunjukkan, ada kandungan tinggi zat dioksin akibat aktivitas pembakaran plastik.

Pemkab Sidoarjo tidak banyak langkah untuk menanggulangi penggunaan bahan bakar sampah plastik ini kecuali mencarikan solusi. Aktivitas bakar plastik untuk membuat tahu pun tidak disetop, hanya diimbau tidak memakai plastik.

Sementara, kran impor sampah plastik, menurut Ecoton LSM Lingkungan Kajian Ekologi dan Lahan Basah, masih berlangsung. Ecoton mengklaim, ratusan kontainer bermuatan sampah plastik di Pelabuhan Tanjung Perak tak ditindak.


"Kalau PIRT (Produk Industri Rumah Tangga) urusan pemkab. Pembinaan urusan pemkab. Kebijakan soal plastik yang masuk di dalam impor bahan kertas, itu urusan pusat. Pemprov ini kan in between," ujar Khofifah.

Sebab itulah, kata Khofifah, Pemprov Jatim hanya berupaya melakukan mediasi, bagaimana para pelaku UKM tahu di Tropodo bersiap-siap untuk mengkonversi bahan bakar plastik yang mereka gunakan selama ini.

Senada dengan Saiful Illah Bupati Sidoarjo, Khofifah juga menyodorkan opsi wood pellets atau pelet kayu sebagai bahan bakar paling memungkinkan dan paling terjangkau untuk menggantikan sampah plastik impor.

"Opsi lainnya, pipa city gas, CNG, dan LPG. LPG ini saya komunikasi dengan GM Pertamina, kami ingin dapat spesial discount khusus untuk pelaku UKM tahu di Tropodo. Sedang dihitung oleh Pertamina," ujarnya.

Prinsipnya, kata Khofifah, pemerintah akan mendampingi para pengusaha tahu, membimbing mereka, kemudian menjaga agar usaha mereka tetap bertahan dan berkelanjutan.

"Tetapi mereka juga harus diinformasikan, disosialisasikan bahwa menggunakan bahan bakar plastik itu tidak boleh. Mereka harus siap-siap mengkonversi dengan bahan bakar lain, yang opsinya empat tadi," katanya.(den/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.