KELANA KOTA

KLHK Berupaya Mengungkap secara Ilmiah Isu Telur Ayam Tercemar Dioksin di Jatim

Laporan Farid Kusuma | Selasa, 03 Desember 2019 | 21:30 WIB
Siti Nurbaya Bakar Menteri LHK (batik biru) memimpin focus expert group discussion mengenai isu tercemarnya telur ayam di Desa Bangun, Kabupaten Mojokerto, dan Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (30/11/2019), di Jakarta. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sudah mengambil sampel telur ayam yang diduga tercemar dioksin, di Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Kemudian, tanggal 29 dan 30 November 2019, KLHK menggelar Focus Expert Group Discussions yang dipimpin Siti Nurbaya Bakar Menteri LHK.

Diskusi yang melibatkan para ahli serta pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Universitas Airlangga (UNAIR), BPPT, dan Pusat Laboratorium Forensik Kepolisian Daerah (Puslabfor Polda) Jawa Timur, dilakukan untuk mengetahui secara detail isu tercemarnya telur ayam berdasarkan kajian independen berbasis ilmu pengetahuan, serta memenuhi kaidah ilmiah.

Selain itu, turut hadir unsur-unsur Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Mojokerto, serta para pemangku kepentingan.


"Dalam diskusi dibahas secara mendalam persoalan-persoalan yang berkaitan dengan dioksin serta persoalan-persoalan sosial ekonomi yang ada di tengah masyarakat," ucap Menteri LHK melalui pesan elektronik yang diterima redaksi suarasurabaya.net, Selasa (3/12/2019).

Menurut Siti Nurbaya, mendalami isu tersebut sangat penting karena pemberitaan mengenai isu tersebut mempengaruhi minat masyarakat mengonsumsi telur ayam.

Studi yang dilakukan KLHK, lanjut Siti, juga mencakup aspek sosial ekonomi, di Desa Bangun, Kabupaten Mojokerto, dan Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo.

Penelitian dan kajian studi itu juga dilakukan dalam rangka pemulihan lingkungan akibat rantai pasok bahan baku impor kertas yang mengandung sampah dan limbah, dari Amerika Serikat, Australia, Jerman dan negara lain.

Siti Nurbaya menambahkan, sejumlah indikasi/gambaran awal tentang situasi kondisi lapangan sudah terlihat. Atas dasar itu, KLHK merasa perlu menyampaikan kritik terkait penelitian organisasi bidang lingkungan Nexus3, Arnika, Ecoton, dan IPEN, yang disebarluaskan media asing seperti BBC dan New York Times.

Menteri LHK menyebut jumlah sampel penelitian itu tidak merepresentasikan kondisi secara utuh, protokol sampling dan uji laboratorium.

Begitu juga terkait sifat dan karakteristik hewan ujinya, seperti ayam. Menurut Siti, hal-hal seperti itu harus didalami dan perlu dikonfirmasi dengan data serta evaluasi hasil sampling, juga uji laboratorium.

Lebih lanjut, KLHK juga meminta bantuan para ahli untuk melakukan riset di Desa Bangun, Kabupaten Mojokerto, dan Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo, khususnya untuk isu dioksin yang meresahkan masyarakat.

"Hari minggu pekan lalu, Tim KLHK melakukan riset bersama para peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sidoarjo juga turun langsung ke Desa Bangun, Mojokerto, dan Desa Tropodo, Sidoarjo," paparnya.

Langkah kongkret sudah disiapkan dan penelitian lapangan diawali untuk studi kimia dioksin dan lingkungan yang dipimpin Dr. Setyo Gunawan dari ITS, serta segera diturunkan tim studi sosial ekonomi dalam rangka pemulihan yang dipimpin Dr. Setyo Moersidik dari UI.

Sementara itu, Prof. Lazuardi Pakar Kehewanan dari Universitas Airlangga menjelaskan, ayam merupakan hewan sensitif, sehingga secara teori ayam akan mati terlebih dulu sebelum racun masuk ke dalam telur.

"Kalau melihat jenis hewan yang dipakai sebagai uji yaitu ayam, sebenarnya ayam itu adalah hewan yang sensitif, dan bisa-bisa ayamnya mati duluan secara teori sebelum racunnya masuk ke telur, meski pun bisa saja ada teori akumulasi. Inilah yang juga akan didalami secara ilmiah," katanya.(rid/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.