KELANA KOTA

Kresnayana: Ada Generasi Alpha yang Butuh Pendidikan untuk Hadapi Perubahan

Laporan Agung Hari Baskoro | Kamis, 05 Desember 2019 | 18:30 WIB
Kresnayana Yahya Bisnis Analis dan Ahli Statistik saat menjadi pembicara dalam Suara Surabaya Economic Forum (SSEF) di Lantai 4 Ballroom Grand City Convex, Surabaya pada Kamis (5/12/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Generasi alpha atau generasi yang lahir diatas tahun 2010 menjadi generasi yang tidak boleh dilupakan oleh pengambil kebijakan di Indonesia. Kresnayana Yahya Bisnis Analis dan Ahli Statistik mengatakan, saat ini masyarakat Indonesia cenderung ribut tentang generasi milenial, generasi yang lahir pada 1980-an. Generasi yang dikatakan banyak membuat perubahan dengan inovasinya di bidang teknologi dan informasi.

"Kita ribut milenial-milenial terus. Lupa sing arek saiki di sekolah, ojok diajari koyok ngunu (seperti generasi sebelumnya, red). Kita harus berani memberi pilihan," ujar Kresnayana saat menjadi pembicara dalam Suara Surabaya Economic Forum (SSEF) di Lantai 4 Ballroom Grand City Convex, Surabaya pada Kamis (5/12/2019).

Lebih lanjut, ia menjelaskan pendidikan Indonesia harus berani berubah dan tidak sama seperti sistem pendidikan lama. Ia mengatakan, pendidikan harus mampu menjawab persoalan saat ini dan mempersiapkan generasi alpha pada revolusi di bidang teknologi informasi saat ini.

"Ada 93 juta orang dari generasi alpha. 52 juta diantaranya di tangannya Nadiem (Menteri Pendidikan,red). TK, SD, SMP, SMA. Ini setara dengan jumlah penduduk Indonesia tahun 95. Kita harus melakukan sesuatu untuk anak-anak yang ada di sekolah. Harus kita berani berhenti ngomong soal masa lalu, dan memberi pilihan," jelasnya.


Mengenai perkembangan ekonomi yang tumbuh sangat berbeda karena inovasi teknologi informasi, Kresna menekankan pada pelaku ekonomi untuk berani bersahabat dengan teknologi.

"Tidak ada yang boleh mengabaikan ini. Siapa yang tidak masuk e-commerce, tidak akan kebagian kue," tegasnya.

Ia menjelaskan, saat ini ada tiga hal yang harus dipelajari. Yaitu people, bussinesss, dan technology. Pebisnis tidak boleh hanya mengetshui soal produknya saja. Selain itu, ia juga mengatakan, perusahaan harus berani membuang segala macam urusan manual seperti kertas. Proses administrasi harus berlangsung secara digital agar tidak membuang waktu.(bas/tin)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.