KELANA KOTA

Dokter: Korban Begal yang Diamputasi Perlu Perawatan Psikis

Laporan Anggi Widya Permani | Jumat, 06 Desember 2019 | 14:03 WIB
dr Pesta Parulian Humas RSUD Dr Soetomo Surabaya. Foto: Anggi/dok.suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Korban begal sadis yang terpaksa diamputasi, masih menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo Surabaya. Korban berinisial SE (21) itu masih memerlukan perawatan psikis, pasca dilakukan amputasi pada kaki dan beberapa jari tangannya.

dr Pesta Parulian Humas RSUD Dr Soetomo mengatakan, korban masih trauma dan tidak mau menerima kunjungan dari siapapun. Kendati demikian, kondisinya stabil dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa.

"Keadaan korban lebih baik dari kemarin. Cuman ada faktor psikis yang harus dirawat ke depannya. Karena dia kehilangan kaki dan tangannya," kata dr Pesta melalui sambungan telepon, Jumat (6/12/2019).

Sebelumnya, SE menjadi korban begal di Jalan Satelit Selatan Surabaya pada 4 Desember 2019 dan sempat ramai di media sosial. Akibat kejadian itu, SE mengalami luka parah di bagian kaki dan tangannya karena senjata tajam yang diarahkan oleh pelaku.


Karena kondisinya yang parah, kata dr Pesta, membuat kaki dan jari tangan SE terpaksa diamputasi. Selain itu, SE juga menerima jahitan di daerah lutut dan di atas tangannya yang juga terluka.

"Dia mengalami traumatik amputasi di engkel atau telapak kaki. Karena tidak bisa lagi di repair (diperbaiki, red) maka dilakukan amputasi engkel sebelah kanan. Kemudian dia juga mengalami traumatik amputasi di regio palmar manus. Beberapa jari kanannya itu terpaksa harus dikorbankan dan dilakukan penjahitan otot-otot dan luka di daerah atas tangannya," jelasnya.

"Sekarang pasien dirawat di ruang biasa dan cukup stabil. Hanya saja tidak mau dikunjungi, karena mungkin dia masih trauma. Mudah-mudahan ke depannya bisa membaik," tambahnya.

Sementara itu, polisi menembak mati begal sadis yang menyerang SE, Jumat (6/12/2019) pagi. Pelaku adalah Moh. Hartono (31) warga Balongsari Madya Surabaya yang diringkus di kawasan Citra Raya.

Kombes Pol Sandi Nugroho Kapolrestabes Surabaya mengatakan, pelaku Hartono bukan pemain baru dalam kasus pencurian dengan kekerasan (curas) ini. Dari catatan kepolisian, pelaku sudah 12 kali melakukan aksi begal di wilayah Surabaya.

Bahkan, pelaku juga tercatat sebagai residivis kasus narkoba. Dari kasus itu, pelaku Hartono pernah mendekam di penjara selama 3 tahun. Hartono terpaksa ditembak dadanya karena berusaha melawan petugas dengan sajam.

"Jadi waktu itu, ada sepasang muda mudi menggunakan sepeda motor scoopy. Kemudian di rampas sepedanya. Karena mencoba mempertahankan hak miliknya, korban dianiaya dengan menggunakan sajam hingga jari dan kakinya putus," kata Sandi.

"Tersangka dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Namun, yang bersangkutan meninggal saat di perjalanan," tambahnya. (ang/tin/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.