KELANA KOTA

Kebebasan Berekspresi adalah Benteng Terakhir agar Tak Direpresi

Laporan Agung Hari Baskoro | Selasa, 10 Desember 2019 | 14:30 WIB
Herlambang P Wiratraman, pegiat HAM sekaligus Peneliti HRLS FH Universitas Airlangga Surabaya. Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Kebebasan berekspresi adalah benteng terakhir manusia agar tidak mudah direpresi oleh siapa pun, termasuk pemerintah. Ini disampaikan Herlambang P Wiratraman, pegiat HAM sekaligus Peneliti HRLS FH Universitas Airlangga Surabaya bertepatan dengan Hari HAM Sedunia pada Selasa (10/12/2019).

Ia mengatakan, saat ini isu kebebasan berekspresi masih menjadi persoalan di Indonesia. Selama lima tahun terakhir, pelanggaran pada kebebasan berekspresi, termasuk pelanggaran HAM terbanyak setelah kasus yang berkaitan dengan Sumber Daya Alam.

"Tren berikutnya, serangan terhadap kebebasan berekspresi, berpendapat, berkumpul, dan pers. Trennya semakin meningkat tahun-tahun belakangan ini," katanya.

Ia menilai otoritarianisme ala orde baru masih belum sepenuhnya hilang setelah reformasi. Ia juga turut menyoroti banyaknya pelanggaran HAM pada pejuang HAM yang juga berkaitan dengan kebebasan berekspresi. Meski begitu, ia yakin masyarakat Indonesi mampu menghadapi tren memburuknya perlindungan negara pada warga negara ini.


"Kami percaya inisiatif yang maju, dari Komnas HAM, kami masih yakin dengan hadirnya Komnas Perempuan yang juga memberikan warna bagi upaya perlindungan hak kaum perempuan. Sementara di dunia kampus, kita juga yakin masih banyak akademisi yang berjuang bersama organisasi non pemerintah, masyarakat sipil juga korban bahu-membahu, membangkitkan kesadaran publik, sekaligus mengupayakan penegakan HAM lebih terkawal," jelasnya.

Sebagai informasi, 10 Desember selalu dirayakan sebagai Hari HAM, termasuk di Indonesia. Perayaan ini dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum PBB mengundang semua negara untuk merayakannya. Tanggal ini dipilih untuk menghormati Majelis Umum PBB yang mengadopsi dan memproklamasikan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 1948. (bas/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.