KELANA KOTA

Rokok Jadi Komoditi Penyumbang Terbesar Kedua Kemiskinan di Jatim

Laporan Agung Hari Baskoro | Rabu, 15 Januari 2020 | 15:00 WIB
Asim Saputra Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Jatim. Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Rokok kretek filter masih menjadi komoditi jenis makanan yang menyumbang garis kemiskinan terbesar kedua di Jawa Timur per September 2019. Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat, rokok kretek filter di perkotaan berkontribusi menyumbang garis kemiskinan sebesar 9,69 persen sedangkan di pedesaan sedikit lebih tinggi sebesar 9,86 persen.

Pada posisi pertama, beras masih mendominasi komoditi makanan yang memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan di Jawa Timur. BPS mencatat, beras menyumbang 24,06 persen di perkotaan dan 2612 di pedesaan. Beberapa komoditi makanan lainnya yang cukup tinggi menyumbang garis kemiskinan adalah telur ayam ras, gula pasir dan daging ayam ras.

Asim Saputra Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Jatim mengatakan, posisi rokok kretek filter yang menempati posisi kedua dalam penyumbang garis kemiskinan juga terjadi pada survei yang digelar Maret 2019. Terkait apakah kenaikan harga rokok di awal tahun 2020 mampu menurunkan posisi rokok dalam penyumbang garis kemiskinan Jatim, ia tidak terlalu yakin.

"Karena perilaku masyarakat kita yang masih aktif menjadi perokok. Terutama masyarakat lapis bawah populasi perokoknya cukup tinggi. Dengan kenaikan cukai rokok (yang berdampak pada kenaikan harga rokok di pasaran, red) ini bisa berdampak dua hal. Yang pertama bisa mengerem atau mengendalikan orang yang tadinya merokok mendadak berhenti," ujar Asim dalam konferensi pers yang digelar BPS Jatim di Surabaya pada Rabu (15/1/2020).


"Karena sudah tidak mampu lagi menjangkau harga rokok, itu bisa memsubtitusi misalkan konsumsi rokok itu turun, itu alokasi keperluan lainnya bisa meningkat. Misalnya belanja berasnya kualitasnya lebih baik. Misalnya kebutuhan protein juga. Jadi anak-anaknya lebih terpenuhi ketika kepala rumah tangganya berhenti merokok," lanjutnya.

Meski begitu, kenaikan harga rokok juga perlu diwaspadai. Ia mengatakan, jika kenaikan harga rokok ini tidak membuat orang berhenti merokok, jumlah orang miskin di Jawa Timur bisa saja makin bertambah pada survey Maret 2020.

"Tapi kalau misal perilaku itu tidak terkendali, artinya kenaikan harga rokok tidak membuat konsumsi itu turun. Nah ini menjadi tantangan kedepan. Bisa mempengaruhi peningkatan garis kemiskinan lebih jauh. Harapan kita mudah-mudahan cukai rokok yang naik, masyarakat bisa lebih selektif. Kalau tidak terkendali, akan ada kenaikan jumlah orang miskin pada penduduk di sekitar garis kemiskinan," jelasnya.

Sebagai informasi, pada bulan september 2019, jumlah penduduk miskin di Jawa Timur mencapai 4.056.000 jiwa atau sebesar 10,20 persen. Angka ini berkurang sebesar 56.300 jiwa dibanding Maret 2019 yang sebesar 4.112.250 jiwa atau sebesar 10,37 persen. (bas/dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 1
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.