KELANA KOTA

Fenomena Raja Abal-Abal yang Masih Saja Punya Pengikut, Ini Penjelasan Sosiolog

Laporan Agung Hari Baskoro | Selasa, 21 Januari 2020 | 19:59 WIB
Tangkapan Layar Video yang menunjukan keberadaan "Sunda Empire" di Bandung. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Kemunculan beberapa kerajaan "abal-abal" yang saat ini viral mulai dari Keraton Agung Sejagad hingga Sunda Empire dinilai Prof. Bagong Suyanto Sosiolog Unair sebagai fenomena memanfaatkan irasionalitas sebagian masyarakat Indonesia.

"Saya lihat, kok ada orang yang bisa memanfaatkan situasi, kemudian mendapat jumlah pengikut lumayan, ratusan orang, orang mudah terpedaya kharisma raja abal-abal ini menurut saya ya karena dia tahu persis bagaimana memanfaatkan sikap irasional masyarakat. Ini korbannya kalau saya lihat, orang yang deprivasi relatifnya tinggi, harapannya melambung, cita-citanya tinggi tapi dunia nyata yang dihadapi tidak menanggapi. Tidak mendukung ke arah itu. Dia ingin jabatan, tapi tidak dapat. Halusinasi semacam ini dimanfaatkan oleh raja-raja ketoprak atau raja-raja apa istilahnya ini," ujar Prof. Bagong kepada Radio Suara Surabaya pada Selasa (21/1/2020).

Prof. Bagong juga menegaskan, keberadaan masyarakat irasonal di tengah masyarakat yang terus mengarah pada rasionalitas adalah keniscayaan. Baginya ini adalah sebuah konsekuensi yang tidak terhindarkan dari perubahan sosial masyarakat yang tidak ada hubungannya dengan tingkat pendidikan seseorang.

"Kalau melihat realitas yang terjadi di masyarakat, pergeseran masyarakat dari yang serba rasional menjadi irasional itu bukan hal baru. Tapi bentuknya macem-macem. Kalau orang sakit nyari kesembuhan ke dokter, kalau tidak berhasil sembuh, lalu lari ke dukun dan sebagainya, ini kan biasa terjadi. Kalau orang merasa hidupnya sudah mentok, tidak ada alternatif lain yang rasioanl bisa ditempuh, pikirian irasional mulai menggelitiki," jelasnya.



Tangkapan Layar Video yang menunjukan keberadaan "Keraton Agung Sejagat" di Purworejo. Foto: Istimewa

Selain memanfaatkan irasionalitas manusia, para raja palsu ini juga memanfaatkan celah kultural masyarakat Indonesia dan Suku Jawa secara spesifik yang masih mempercayai konsep ratu adil, sebuah konsep yang meyakini akan munculnya seorang pemimpin yang didamba-dambakan.

"Ini disebut sebetulnya ada motif ekonomi. Kepercayaan pada ratu adil ini dikomodifikasi. Kan buktinya pemimpinnya punya utang, narik iuran, ini kelihatan motif ekonomi dibalik itu. Kan muncul bukan sebagai patron mengayomi dan punya uang banyak untuk menyejahterakan pengikutnya. Ini kan ndak. Pengikutnya yang justru menopang secara ekonomi raja-rajanya," kata Prof. Bagong.

Ia juga menyakini, fenomena kerajaan palsu dan modus-modus serupa sebenarnya ada banyak di Indonesia. Hanya saja yang terekspos di media hanya satu-dua kasus saja. Hal ini, menurut Prof. Bagong menunjukkan bahwa memang ada kelompok masyarakat lemah di Indonesia yang masih sangat mudah diperdaya, digoda, dan dimanipulasi.

"Artinya kelompok-kelompok semacam ini dari waktu ke waktu pasti akan terus bermunculan. Sepanjang orang-orang masih belum puas dengan apa yang mereka capai saat ini. Ada deprivasi relatif. Harapannya terlalu tinggi. Sehingga itu membuat orang mudah terpedaya bujuk raju dan mitos yang dibangun," jelasnya.

Menghadapi fenomena ini dan kenyataan bahwa selalu ada masyarakat yang tidak rasional, Prof. Bagong memberi solusi agar manusia memanfaatkan sisi irasonal lain yang dikatakannya sebagai jalur irasional yang benar.

"Jalur irasonal, itu ada dua. Orang juga punya keyakinan pada supranatural tapi agama. Jalurnya benar. Ada juga jalur irasonal yang justru menjerumuskan. Agama salah satu solusi," pungkasnya. (bas/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.