KELANA KOTA

China Lakukan Blokade Wuhan, Para Mahasiswa Unesa Ikut Terisolasi

Laporan Agustina Suminar | Jumat, 24 Januari 2020 | 13:21 WIB
Natania (dua dari kanan/berponi) bersama para mahasiswi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) saat berfoto bersama di Great Wall, China. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Dua kota di China, yaitu Wuhan dan Huanggang saat ini diblokade akibat semakin menyebarnya virus korona di wilayah tersebut hingga mengakibatkan 25 orang meninggal.

Akses ke arah dua kota ini ditutup dan dijaga ketat. Akibatnya aktivitas warga sangat terbatas.

Inilah yang juga dialami para mahasiswa dari berbagai negara yang berkuliah di Central China Normal University (CCNU) di Wuhan.

Natania (21) mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Mandarin beserta belasan temannya yang lain dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) masih bisa keluar asrama, hanya angkutan umum seperti kereta dan bus yang tidak ada. "Mereka masih bisa beli bahan makanan di sekitar asrama, selama masih bisa ditempuh dengan jalan kaki," ujarnya.



Natania (kiri) saat berfoto bersama dengan teman-temannya di China. Foto: Istimewa

Lilis Triyana (48), ibu dari Natania mengatakan, lima bulan yang lalu, Natania bersama para mahasiswa lain berangkat ke Wuhan, China. Mereka mendapat beasiswa untuk belajar di CCNU selama satu tahun. Mereka sengaja tidak pulang ke Indonesia pada liburan kampus kali ini, karena ingin menikmati perayaan Tahun Baru Imlek dan menelurusi lebih banyak tempat di China.

Namun, siapa sangka, Wuhan menjadi tempat bermulanya temuan virus korona hingga menewaskan puluhan orang di China. Pemerintah akhirnya melakukan kebijakan isolasi dan transportasi umum berhenti operasi, untuk mengurangi penyebarannya.

Kepada Radio Suara Surabaya, Lilis menceritakan situasi dan kondisi Kota Wuhan berdasarkan apa yang ia peroleh dari sang putri.

"Dia (Natania) bilang tidak bisa ke mana-mana, diisolasi. Kendaraan umum sudah tidak ada dan toko makanan sudah mulai tutup. Dia di asrama tidak masak, makanan beli. Saya khawatir. Ada sih supermarket, tapi mereka pasti juga ngeborong gak karuan. Kemarin bilang kalau sudah mulai makan makanan instan," ceritanya kepada Radio Suara Surabaya, Jumat siang (24/1/2020).

Menurut cerita Lilis, para mahasiswa saat ini hanya diperbolehkan berada di asrama beserta 60 penghuni asrama lain yang berasal dari berbagai negara.


Para mahasiswi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) saat berfoto bersama. Foto: Istimewa

Selain itu, mereka juga hanya diizinkan untuk memasuki wilayah kampus, yang dianggap sebagai salah satu tempat paling aman dari penyebaran virus korona.

Namun kampus saat ini diliburkan dan semua acara terkait Tahun Baru Imlek dibatalkan.

Untuk memantau keadaan para mahasiswa, petugas kampus sekaligus penanggung jawab asrama mendatangi setiap kamar mahasiswa. Petugas memberikan penutup hidung atau masker, hand sanitizer dan memantau suhu tubuh secara berkala.

Meski khawatir, namun Lilis mengaku selalu diminta tenang oleh putrinya, karena para mahasiswa dalam pantauan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

"Dia bilang 'jangan khawatir'. Dia kirim percapakan dia dengan penanggung jawab mahasiswa, mereka dipantau terus dari KBRI dan Kemenlu," katanya.

Saat ini, Lilis beserta orang tua mahasiswa lain di Indonesia terus memantau kabar anak-anak mereka, salah satunya melalui akun media sosial resmi KBRI Beijing yang mengupdate situasi terkini di Wuhan, China.(tin/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.