KELANA KOTA
Gara-gara Ruas Jalan Termakan Tumpukan Sampah

Mobil Naik Tembok di Jalan Pakis Surabaya, Ini Reaksi Netter e100

Laporan Ika Suryani Syarief | Jumat, 24 Januari 2020 | 21:21 WIB
Mobil naik tembok tanggul sungai saat melintas di Jalan Pakis, sekitar Pasar Pakis Surabaya, Jumat (24/1/2020) siang. Ruas jalan jadi sempit karena termakan tumpukan sampah. Foto: Netter via e100
suarasurabaya.net - Sejumlah Netter e100 mengirimkan foto mobil yang naik tembok tanggul sungai saat melintas di Jalan Pakis sekitar Pasar Pakis, Surabaya. Menurut Netter, hal ini terjadi hari ini, Jumat (24/1/2020) siang.

Dalam foto yang tersebar di sejumlah grup WhatsApp tersebut tampak dua mobil yang berhimpitan di jalan yang cukup sempit dan banyak sampah di tepinya.

Saat diunggah e100, foto ini menuai beragam komentar. Mulai dari komentar kaget, lucu, sampai membahas tumpukan sampah. Netter menghubung-hubungkan aksi mobil hitam itu dengan adegan film, kungfu, gim, sampai atraksi tong setan.

Sampai pukul 21.20 WIB, unggahan e100 sudah mendapat 6,2 ribu reaksi, 1.900 lebih komentar, dan dibagikan 659 kali.




"Helluuukkk supire suangar cak ... !! pean mari ngene dilamar gae Fast and Furios 12, Cak," tulis Rochimin.

Rhieta Marcelina menambahkan komentar, "Tak kiro syuting film Fast and Furios nang Indonesia".

Trio Resmita Adi menulis, "Driver e alumni wahana tong edan pasar malem".

"Hebat..mobile isok kungfu barang ngono...!!!" tulis Yanto.

Supriyanto, Netter lain, menulis, "Driver handal. Gak sembarangan orang bisa melakukan seperti itu, kayak adegan dalam film James Bond 007. Hebat. Sing penting podo selamet wae cak".

Deni Indra, Netter, mengaku pernah mengalami hal yang sama. "Allhamdulillah akhirnya ada yang posting. Mobilku juga sampai naik 3 bulan yang lalu. Jalan dari Pasar Pakis mau ke Pakis Gunung."

Sementara, Irawati berpendapat jika Jalan Pakis memang sempit, tidak cukup untuk diIewati dua mobil. "Iki jane masio genok sampah gak iso lo dilewati mobil 2, ndek kene. Isone papasan pas arep nganan di depannya, ato majuan pas ndek perempatan'e."

Beberapa Netter pun menyoroti keberadaan sampah yang membuat Jalan Pakis semakin sempit. Airin Fairisa menulis, "Itu jalannya memang udah sempit terus ada orang buang sampahnya dikumpulin di situ padahal udah jelas ada larangan".

"Parah sampah e Min, tiap hari lewat gak kuat ambune," tulis Reni Rahmawati.

Eny, Netter yang mengaku setiap hari lewat jalan itu membenarkan. "Di situ sudah ada papan peringatan untuk tidak membuang sampah, tapi tetep saja diulang. Apa perlu dipasang CCTV supaya tahu siapa yang membuang dan ditindak".

Dhiemas, Netter yang merupakan warga setempat mengaku juga terganggu sampah di lokasi itu. "Saya orang Pakis juga terganggu dengan keadaan itu. Tiap lewat baunya ampun. Masa iya sih nggak ada tarikan iuran RT untuk sampah, sehingga selalu dibuang di tempat yang sama dan yang selalu memberesi orang-orang DKRTH."

Netter bernama Muhammad Adji Baskoro Eko Murwanto menjelaskan, sebenarnya pengurus lingkungan itu sudah berusaha menjaga kebersihan. "Tumpukan sampah otomatis di situ, diambil sampai bersih, hanya hitungan menit, kadang gak sampai satu jam sampahnya datang lagi dan menumpuk lagi. Itu sudah diatur dan dijaga oleh pengurus RT dan RW setempat bahkan kelurahan, cuma ya begitu lagi."

Adrian Hendra, warga Pakis mengaku sudah melarang orang-orang membuang sampah di jalan itu. "Saya tinggal di tempat situ, saya larang buang sampah di situ kok saya malah diajak berantem, katanya ini jalan umum apa hak kamu melarangku. Padahal tempat pembuangan sampah cuma 500 meter dari TKP."

Achmad Rizzulah, Netter lainnya, menduga sampah tersebut berasal dari aktivitas pasar. "Itu deket pasar mangkannya sering orang-orang sana kebiasaan buang sampah di situ, padahal dulu sempet bersih sampe bisa dibuat tempat nunggu orang-orang yang belanja di pasar parkir motor, kalo sekarang udah gak bisa karena banyak sampah, tapi setahuku sih kalau malam memang gak sebanyak itu sampahnya, kalo pagi-siang lumayan banyak."

Beberapa solusi yang diusulkan Netter yaitu mengatur pasar dan pengenaan denda bagi pembuang sampah. Adi Chrisianto menulis, "Kalau mau selesai ya pedagang harus masuk pasar sehingga dapat dikendalikan".

"Pasang CCTV saja. Biar ketahuan siapa saja yang buang sampah disitu. Berlakukan denda jika ketahuan," tulis Heru Saputra.(iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.